<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281</id><updated>2012-02-10T13:50:31.375-08:00</updated><category term='feature'/><category term='artikel'/><title type='text'>Yayasan Ash Shidiq Juwana</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-7251278572760661550</id><published>2011-07-19T18:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T18:54:31.520-07:00</updated><title type='text'>PESAN NABI YUSUF YANG TERLUPAKAN OLEH UMAT MUSLIMIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CRb6De3Pixw/TiYziXpyWgI/AAAAAAAAAA0/XthOZfY92GA/s1600/1.jpeg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 186px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CRb6De3Pixw/TiYziXpyWgI/AAAAAAAAAA0/XthOZfY92GA/s320/1.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631245049631234562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Surat Yusuf (12) merupakan rujukan utama Kaum Muslimin untuk menabung dan  berasuransi. Akan tetapi Sura Yusuf ini hanya tersosialisasi pada kaum  Muslimin sebagai Sura yang dibacakan kepad Ibu Hamil supaya janinnya  kelak ganteng seperti Nabi Yusuf. Namun makna yang terkandung dalam Sura  Yusuf sesunggungnya banyak sekali, bukan hanya sebagai Sura yang  dibacakan untuk Ibu Hamil. Dalam Sura Yusuf telah mencatat perdagangan  orang, sifat diskriminasi orang tua terhadap anak, hakim yang adil,  penguasa yang lalim, tabir mimpi, dan terpenting tentang menabung dan  berasuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat saya mengikuti training asuransi  Pelatihnya bukan seorang muslim, namun ia secara cerdas dan sadar  menjelaskan firman Allah dalam Sura Yusuf terutama ayat 47 dan 48. Ini  mujizat Quran untuk Manusia (bukan hanya kaum Muslimin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sura  Yusuf ayat 47, bunyinya “Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh  tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah  kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Ayat 48.  Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang  menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit),  kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh  dahsyat ayat ini telah memberikan petunjuk yang pasti bahwa manusia  tidak selamanya mapan, namun suatu waktu akan merasakan kesengsaraan.  Hal ini dapat dianalogikan - saat sehat kita mengumpulkan semua harta,  pada masa sulit merasakan jeri payah selama masa sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya  sekarang mengapa Kaum Muslim tidak banyak menabung dan berasuransi?  Jawaban sementara, belum banyak ustad yang diamanahi untuk mencerdaskan  umatnya, secara sadar memperkenalkan ayat-ayat Al-Quran yang telah  teruji. Selain itu…para ustad masih berkutat dengan masalah hilafiah.  Yang seharusnya mereka memberikan pemahaman yang mumpuni kepada umatnya,  justru mereka lebih banyak menakut-nakuti umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Corong  Perbankan dan Asuransi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya Masjid sebagai corong  Perbankan dan Asuransi. Tidak henti-hentinya ustad Antonio Safei  memperkenalkan mengenai Bank Syaria, namun upaya beliau belum banyak  mendapat sokongan yang masif sampai ke daerah Perdesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad  dan imam Masjid patut mengoreksi diri - apakah telah menjadikan Al-Quran  sebagai rujukan utama dalam membangun umat? Jika belum, maka sudah  saatnya untuk berubah. Selama ini Al-Quran terkenal bukan oleh Kaum  Muslimin, justru oleh umat lain - lihat saja mereka yang sukses  memperkenalkan Asuransi, Lebah, dan lain-lain mereka yang menjadikan  Al-Quran sebagai rujukan utama, meskipun mereka tidak secara nyata  menyatakan. Begitu juga, jika kita memperhatikan literatur tentang  motivasi, maka sebagian besar rujukannya Al-Quran dan Al-Hadist. Itupun  juga mereka tidak secara nyata menyebutkannya. Hanya mereka yang secara  sadar telah menyelesaikan pembacaan Al-Quran dan Al-Hadist dapat  menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai  ”Kelapa Sawit” yang mengalami masa booming sekitar beberapa tahun yang  lalu. Para petani dan pengusaha terus memperluas lahannya, namun mereka  lupa menabung dan mengantisipasinya. Saat Kelapa Sawit mengalami  penurunan, petani dan pengusaha kelagapan. Intinya, mereka lupa pesan  dalam Sura Yusuf (12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga banyak kaum Muslim yang miskin  tidak dapat menyekolahkan anaknya, karena mereka belum menjadikan  Al-Quran sebagai pegangan hidup, selain mereka tidak punya Quran, juga  tidak bisa baca. Ini semua menjadi tanggung jawab Masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan  Allah kepada Nabi Muhammad untuk umat Manusia Baca…Baca…Baca… Bukan  hanya baca huruf tetapi semua pesan yang ada di alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-7251278572760661550?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/7251278572760661550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/07/pesan-nabi-yusuf-yang-terlupakan-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/7251278572760661550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/7251278572760661550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/07/pesan-nabi-yusuf-yang-terlupakan-oleh.html' title='PESAN NABI YUSUF YANG TERLUPAKAN OLEH UMAT MUSLIMIN'/><author><name>sulis tiyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08052213998932762111</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-b_UhTvPjipg/TiYp05XIaeI/AAAAAAAAAAQ/8FF4Q4Qdqv8/s220/17240_1103873495417_1784152709_215567_5980365_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CRb6De3Pixw/TiYziXpyWgI/AAAAAAAAAA0/XthOZfY92GA/s72-c/1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-3516905733928215721</id><published>2011-06-20T22:15:00.001-07:00</published><updated>2011-06-20T22:15:55.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feature'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Wasiat Luqman Kepada Anaknya (Bagian Tiga)</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="img" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/207899_10150167172206871_677471870_7035115_1409872_n.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Wasiat Ke-tiga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Dan  seandainya mereka (kedua orang tua)&amp;nbsp; memaksamu untuk menyekutukan-Ku  yang kamu tidak memiliki ilmu akannya, maka jangan ta’ati keduanya namun  perlakukan mereka di dunia secara ma’ruf. Dan ikutilah jalan mereka  yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada-Ku lah kalian semua akan  kembali, maka kelak akan Aku jelaskan kepada kalian apa-apa yang selama  ini kalian kerjakan&lt;/em&gt;..” ) (Luqman: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Setelah sebelumnya, pada wasiat ke-dua, ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;mengabarkan  Wasiat Luqman kepada anaknya -berupa perintah berbuat baik kepada kedua  orang tua-, maka pada ayat ini (selanjutnya) ALLAH secara langsung  mengingatkan kepada segenap manusia agar tidak menuruti kedua orang tua  mereka seandainya diperintahkan untuk menyekutukan ALLAH. Namun  demikian, tetaplah diperintahkan untuk bergaul dan memperlakukan kedua  orang tuanya -di dalam urusan yang tidak menyangkut agama- secara baik.&lt;br /&gt;Ibnu Katsir -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-&amp;nbsp; menjelaskan tentang ayat tersebut di atas, “&lt;em&gt;Maksudnya  adalah jika keduanya benar-benar menginginkan engkau untuk mengikuti  agama mereka, maka janganlah engkau penuhi. Namun hal itu tidak  menghalangimu untuk berbuat baik kepada mereka di dunia. Dan ikutilah  jalan orang-orang beriman&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Dikaitkan ayat sebelumnya (“&lt;em&gt;Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya&lt;/em&gt;…”) dengan ayat di atas&amp;nbsp; (“&lt;em&gt;Dan seandainya mereka (kedua orang tua)&amp;nbsp; memaksamu untuk menyekutukan-Ku&lt;/em&gt;&amp;nbsp;…”) memberikan pelajaran kepada kedua belah pihak, anak dan orang tua sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepada Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;telah  mewajibkan setiap manusia (anak) untuk ta’at dan berbakti kepada kedua  orang tuanya. Namun manakala orang tuanya mengajak atau memerintahkan  kepada perbuatan ma’shiyat, apakah itu berupa syirik, bid’ah, atau  bentuk-bentuk pelanggaran syari’at lainnya,&amp;nbsp; maka anaknya wajib menolak.&lt;br /&gt;Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره ما لم يؤمر بمعصية&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;فإن أمر بمعصية فلا سمع عليه ولا طاعة&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(زواه الترمذي)&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Setiap  pribadi muslim wajib mendengar dan ta’at&amp;nbsp; kepada perintah yang bukan  ma’shiyat, baik senang maupun terpaksa. Dan jika diperintahkan untuk  ma’shiyat, maka tidak boleh didengar dan dita’ati&lt;/em&gt;.)&lt;br /&gt;Melalui  ayat ini kita diingatkan, bahwa keta’atan kepada makhluq, termasuk  kepada orang tua, tidaklah semutlak keta’atan kepada ALLAH dan kepada  Rasul-Nya. Keta’atan kepada manusia hanya berlaku selagi yang  diperintahkannya bukan berupa ma’shiyat. Kita (anak) diingatkan, bahwa  haq ALLAH -sebagai satu-satunya Zat yang layak dibadahi, yang pantas  untuk diberikan keta’aatan tanpa batas- tidak bisa diganggu gugat oleh  manusia. orang tua sendiri sekalipun.&lt;br /&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tidak  menginginkan diri-Nya ditandingi dalam hal dicintai dan seorang mu’min  dituntut untuk mencintai ALLAH lebih dari selain-Nya.&lt;br /&gt;وَمِنَ  النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ  كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ …&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Dan  ada di antara manusia yang meciptakan tandingan bagi ALLAH. Mereka  mencintainya sebagaimana mereka mencintai ALLAH. Adapun orang beriman  itu sangatlah cinta kepada ALLAH&lt;/em&gt;…) (Al Baqarah: 165)&lt;br /&gt;Dan  tidak mungkin terjadi seseorang yang telah beriman kepada ALLAH dan  kepada Hari Akhir kemudian mereka akan mencintai musuh-musuh ALLAH,  meski itu orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ&lt;br /&gt;وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Tak  akan kamu dapati kaum yang telah beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir  mereka berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi ALLAH dan  Rasul-Nya, meskipun itu orang tua mereka, anak-anak mereka,  saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka&lt;/em&gt;…”) (Al Mujaadilah: 22)&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- pun menegaskan:&lt;br /&gt;لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله،&lt;br /&gt;وحتى أن يقذف في النار أحب إليه من أن يرجع إلى الكفر بعد إذ أنقذه الله،&lt;br /&gt;وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;ia  mencintai saudaranya karena ALLAH, sampai dijebloskan ke dalam neraka  lebih ia sukai dari pada harus kembali kepada kekufuran, dan sampai&amp;nbsp;&lt;strong&gt;ALLAH dan Rasul-Nya lebih ia cintai ketimbang yang lain&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.) (HR: Al Bukhari dari Anas bin Malik)&lt;br /&gt;Seluruh nash (Al Qur’an dan Al Hadits) di atas mengingatkan kita (anak) agar :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Cinta kita kepada orang tua semata–mata dilandasi karena cinta dan keta’atan kita kepada ALLAH.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cinta kita kepada orang tua tidak boleh mengalahkan cinta kita kepada ALLAH.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang memusuhi ALLAH &amp;nbsp;dan Rasul-Nya tidak berhak mendapatkan cinta kasih, meski itu orang tua kita sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kemudian ayat ini dilanjutkan dengan peringatan ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“…namun perlakukan mereka di dunia secara ma’ruf.”&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Ya, ALLAH&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tidak  menghendaki larangan-Nya terhadap anak untuk ta’at kepada orang tuanya  -di dalam ma’shiyat- menjadi sebab putusnya sama sekali hubungan  duniawiyah di antara mereka.&lt;br /&gt;Jika sebelumnya kita (anak) diingatkan untuk tidak&amp;nbsp;&lt;em&gt;kebablasan&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di dalam berbakti dan ta’at kepada orang tua, maka selanjutnya ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;pun mengingatkan untuk tidak&amp;nbsp;&lt;em&gt;kebablasan&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di  dalam menyikapi orang tua yang mengajak berbuat ma’shiyat. Jika  sebelumnya kita dilarang mencintai orang-orang yang memusuhi ALLAH dan  Rasul-Nya, maka selanjutnya kita diingatkan, bahwa larangan mencintai  ini tidak berarti juga larangan untuk berbuat baik kepada mereka.  Karena&amp;nbsp;&lt;strong&gt;berbuat baik kepada mereka (kedua orang tua) tidak mengharuskan adanya cinta dan kasih sayang&lt;/strong&gt;.  Dan seseorang yang berbuat baik kepada musuh-musuh ALLAH -terlebih itu  orang tuanya sendiri- tidaklah berarti dianggap ia cinta kepada mereka.  Maka begitu pula sebaliknya, membenci musuh-musuh ALLAH tidak otomatis  harus bersikap jahat (tidak baik) kepada mereka. Menolak dan membenci  ajakan kedua orang tua untuk berbuat syirik -apalagi yang lebih ringan  dari itu- tidak berarti hilangnya kewajiban untuk berbuat baik dan adil  kepada mereka. .Demikianlah maksud dari firman ALLAH ,&lt;em&gt;&amp;nbsp;“…namun perlakukan mereka di dunia secara ma’ruf.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sikap semacam ini (senantiasa berbuat baik) lah yang ditempuh oleh Sa’ad bin Abi Waqqash -&lt;em&gt;radhiallahu anhu-&amp;nbsp;&lt;/em&gt;menghadapi ibunya yang memaksa beliau untuk kembali kepada kemusyrikan. Sikap ini pulalah yang Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi sallam&lt;/em&gt;- perintahkan kepada Asma bintu Abi Bakar -&lt;em&gt;radhiallahu anha&lt;/em&gt;- untuk tetap melayani orang tuanya dan berbuat baik kepada mereka.&lt;br /&gt;Maka hendaknya setelah ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;memberi kita hidayah Islam, juga hidayah untuk mengenal Sunnah (baca: Amalan Islam yang sesuai dengan contoh Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-)  kemudian kita dapati orang tua kita tidak menerima bahkan menolak apa  yang kita sampaikan kepada mereka, tidaklah semua itu menjadi alasan  untuk tidak berbuat baik serta adil terhadap mereka. Tidaklah semua itu  mencegah kita untuk tetap harus bersikap sopan dan santun kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepada Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengingatkan  kita (para orang tua), bahwasanya keta’atan anak kepada kita (orang  tua) itu tidaklah semutlak keta’atan yang harus mereka berikan kepada  ALLAH dan Rasul-Nya. Kita (orang tua) juga perlu berlapang dada manakala  anak kita tidak mau menjalankan perintah kita, yang boleh jadi karena  mereka telah mengetahui -berdasarkan ilmu yang telah dipelajarinya-  bahwa perintah orang tuanya tersebut merupakan hal yang bertentangan  dengan syari’at.&lt;br /&gt;Itu artinya, orang tua dilarang memerintahkan  anak untuk melakukan hal-hal yang dilarang di dalam agama Islam,  membelikan rokok misalnya. Dan keengganan anak terhadap perintah semacam  ini &amp;nbsp;-dari orang tuanya-&amp;nbsp; bukanlah kedurhakaan.&lt;br /&gt;Ayat yang  dhohirnya &amp;nbsp;menggambarkan perkara hubungan seorang anak -yang beriman-&amp;nbsp;  dengan seorang tua -yang kafir atau musyrik- , yakni larangan seorang  anak untuk mengikuti ajakan orang tuanya berbuat syirik kepada ALLAH,  sebetulnya juga memberikan pelajaran bagi kita (orang tua) untuk tidak  memaksakan kehendak -berdasarkan perasaan atau adat istiadat- kepada  anak di dalam perkara yang anak telah mengetahui ilmunya menurut ajaran  Islam.&amp;nbsp; Dan kita (orang tua) tidak boleh serta merta menuduh anak tidak  mau berbakti, kurang ajar atau durhaka disebabkan mereka -dengan  dilandasi dalil-dalil syar’i- menolak perintah kita. Bakti mereka yang  kita tuntut -di dalam kondisi semacam ini- hanyalah yang bersifat  duniawiyah.&lt;br /&gt;Kemudian , sebagai penutup ayat, ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;memerintahkan  untuk mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Nya kemudian  kelak akan IA jelaskan dan balas seluruh amal yang kita lakukan selama  di dunia.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Dan  ikutilah jalan mereka yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada-Ku lah  kalian semua akan kembali, maka kelak akan Aku jelaskan kepada kalian  apa-apa yang selama ini kalian kerjakan&lt;/em&gt;.&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Dan yang dimaksud ”&amp;nbsp;&lt;em&gt;mereka yang kembali kepada-Ku&lt;/em&gt;..” adalah orang-orang beriman. Dan orang beriman ketika itu tidak lain adalah Sahabat&amp;nbsp;&lt;em&gt;-radhiallahu anhum&lt;/em&gt;-.  Mereka adalah orang-orang yang pertama menerima Islam dan menghadapi  tantangan dari keluarga serta orang tua mereka. Para Sahabat&lt;em&gt;&amp;nbsp;-radhiallahu anhum&lt;/em&gt;-.  bukan hanya pelopor di dalam menerima aqidah Islam dan di dalam  mentauhidkan ALLAH dengan segala konsekuensinya. Lebih dari itu mereka  adalah teladan di dalam akhlaq bermu’amalah, baik terhadap sesama orang  beriman maupun yang selainnya, termasuk kepada karib kerabatnya. Mereka  adalah generasi yang paling mengerti bagaimana harus mencintai dan  membenci karena ALLAH.&lt;br /&gt;Kecintaan mereka kepada orang lain -karena  ALLAH- tidak menyebabkan kecintaannya kepada ALLAH dikalahkan atau  dikorbankan. Begitu pula, kebencian mereka kepada orang lain -karena  ALLAH- tidak membuat mereka berlaku dzalim. Mereka paling mengerti  tentang perintah dan larangan ALLAH, dan paling paham maksud ayat-ayat  di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ  اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا  أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Dan di antara  manusia ada yang membuat tandingan-tandingan bagi ALLAH yang mereka  cintai sebagaimana mereka mencintai ALLAH. Sedangkan orang-orang beriman  sangatlah cinta kepada ALLAH&lt;/em&gt;.”) (Al Baqarah: 165)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ  بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا  تَعْدِلُوا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Wahai  orang-orang beriman, hendaknya kalian menjadi orang-orang yang  menegakkann kebenaran karena ALLAH, menjadi saksi dengan adil. Dan  janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian berlaku  tidak adil. Berlakulah adil, karena hal itu lebih dekat kepada taqwa.  Dan bertaqwalah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa  yang kamu kerjakan&lt;/em&gt;.”) (Al Maa’idah:&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Karena keteladaan merekalah ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;memerintahkan  kita untuk mengikuti dan mencontoh mereka. Dan kita semua akan  mendapatkan balasan yang sesuai dengan amalan kita selama hidup di  dunia. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Wasiat Luqman Kepada Anaknya”&amp;nbsp;(Ke-dua)&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maret 24, 2009&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Posted by rumahbelajaribnuabbas in .&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;add a comment&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Abu Khaulah Zainal Abidin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wasiat Ke-dua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ&lt;br /&gt;أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada  kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang  bertambah-tambah serta menyapihnya dalam dua tahun. Agar bersyukur  kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian. Hanya kepada-Ku lah kamu  kembali.&lt;/em&gt;) (Luqman: 14)&lt;br /&gt;Setelah sebelumnya, pada wasiat  pertama, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengabarkan Wasiat Luqman kepada  anaknya -berupa larangan berbuat syirik-, maka pada ayat ini  (selanjutnya) ALLAH secara langsung mewasiatkan kepada segenap manusia  agar berbuat baik kepada kedua orang tua mereka. Namun hakekatnya, ini  juga merupakan wasiat Luqman kepada anaknya yang ALLAH kabarkan kepada  seluruh manusia.&lt;br /&gt;Imam Al Qurthuby -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa&lt;/em&gt;- menjelaskan di dalam tafsirnya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ini  adalah di antara yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya -yang ALLAH  kabarkan tentangnya-. Yaitu, Luqman berkata kepada anaknya: “Jangan  sekutukan ALLAH dan jangan ta’ati kedua orang tuamu di dalam berbuat  syirik. Karena sesungguhnya ALLAH telah memerintahkan dengannya, yakni  menta’ati keduanya di dalam hal-hal yang bukan merupakan kesyirikan dan  ma’shiyat kepada ALLAH&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Masuknya perintah ALLAH di dalam  wasiat Luqman ini memberikan pelajaran tersendiri, yaitu bahwa ta’atnya  seorang anak kepada kedua orang tuanya merupakan bagian dari keta’atan  kepada ALLAH. Dan.tidaklah dikatakan ta’at kepada ALLAH atau bukanlah  itu yang dimaksud, seandainya seorang anak menta’ati (-ajakan atau  ajaran-) orang tua di dalam berma’shiyat kepada ALLAH. (-Akan dijelaskan  pada wasiat ke-tiga-).&lt;br /&gt;ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah  mewajibkan hamba-Nya agar berbuat baik (berbakti) kepada orang tuanya.  Bahkan -di berbagai tempat dan ungkapan- kewajiban tersebut senatiasa  disebutkan setelah perintah untuk mentauhidkan-Nya :&lt;br /&gt;وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  (-ingatlah-) ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra’il, agar  kalian (-wahai Bani Isra’il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan  agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.&lt;/em&gt;) (Al Baqarah: 83)&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan  sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua&lt;/em&gt;.)(An-Nisaa’:36)&lt;br /&gt;قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Katakanlah,”Marilah  kubacakan apa yang ALLAH haramkan atas kalian, yaitu: janganlah kalian  menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua  orang tua&lt;/em&gt;…&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;)(Al An’aam:151)&lt;br /&gt;وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua&lt;/em&gt;.)(Al Isra’:23)&lt;br /&gt;Hal  ini membuktikan, bahwa berbuat baik (berbakti) kepada orang tua  merupakan perkara yang pertama dan terpenting -di dalam urusan hablum  minannas- setelah mentauhidkan ALLAH.&lt;br /&gt;Dan apa yang ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;firmankan  melalui wasiat Luqman ini merupakan dalil wajibnya -bagi kita- untuk  berbakti kepada kedua orang tua sekaligus dalil wajibnya -bagi kita-  untuk mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berbakti  kepada orang tua. Setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya  mengetahui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa ridho kepada seorang hamba  manakala hamba tersebut diridhoi orang tuanya, sebagaimana sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رضى الرب في رضى الوالد وسخط الرب في سخط الوالد&lt;br /&gt;(مستدرك الحاكم: و هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه)&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ridho ALLAH mengikuti ridho orang tua, dan kemurkaan ALLAH mengikuti kemurkaan orang tua.&lt;/em&gt;“&lt;br /&gt;Kemudian,  setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya mengetahui betapa  berbakti kepada kedua orang tua merupakan lahan ibadah yang sangat subur  dan kesempatan yang sangat berharga. Sehingga merugilah manusia yang  tidak mengambil kesempatan sebaik-baiknya di lahan ini. Perhatikanlah  Sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- ini dan ingat-ingatlah selalu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم. قال:”رغم أنف، ثم رغم أنف، ثم رغم أنف”&lt;br /&gt;قيل: من يا رسول الله ؟&lt;br /&gt;قال “من أدرك أبويه عند الكبر، أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة”.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;-, dari Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, berkata, “&lt;em&gt;Celaka, celaka, celaka !&lt;/em&gt;“. Beliau ditanya, “&lt;em&gt;Siapa, ya Rasulullah ?&lt;/em&gt;” Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Siapa yang memiliki orang tua -keduanya atau salah satunya- yang sudah lanjut usia, namun ia tidak masuk surga.&lt;/em&gt;:” (HR: Muslim)&lt;br /&gt;Lebih dari itu, berbakti kepada orang dapat menjadi sebab datangnya pertolongan ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subahaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di  saat-saat yang sangat kritis, di mana seseorang sangat membutuhkan  sekali bantuan atau pertolongan seseorang. Perhatikanlah kisah salah  seorang&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ashabul Ghori&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(pemuda yang terkurung di dalam gua).  Disebabkan amal sholeh -berupa ta’dzimnya kepada kedua orang tua- nya  selamatlah ia dari musibah yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua adalah:&lt;br /&gt;• Berkata dengan lemah lembut&lt;br /&gt;• Senantiasa mematuhinya di dalam hal perkara yang bukan ma’shiyat.&lt;br /&gt;• Senantiasa jujur kepadanya.&lt;br /&gt;• Berusaha membahagiakannya.&lt;br /&gt;• Meringankan bebannya.&lt;br /&gt;• Melayani dan mengutamakannya di atas selain mereka.&lt;br /&gt;• Pandai berterima kasih dan merasa cukup atas pemberian mereka.&lt;br /&gt;• Senantiasa mendo’akannya.&lt;br /&gt;• Menjaga silaturahmi dengan teman/ karabat orang tua sepeninggal mereka.&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi perbuatan ma’ruf yang termasuk ke dalam kategori birrul walidain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  ketika Luqman mewasiatkan anaknya agar berbakti kepada kedua orang tua  setelah mewasiatkan mereka agar mentauhidkan ALLAH, juga ketika perkara  birrul walidain ini senantiasa ALLAH kaitkan setelah perintah  mentauhidkan-Nya, itu artinya bahwa dosa terbesar yang dilakukan di  antara sesama manusia adalah durhakanya anak kepada kedua orang tuanya,  sebagaimana dosa terbesar yang dilakukan manusia terhadap ALLAH adalah  menyekutukan-Nya. Sampai-sampai ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;menyegerakan adzab-Nya bagi orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;Kisah  Juraij -seorang ahli ibadah yang lebih mengutamakan sholat nafilah  (sunnat)-nya ketimbang panggilan ibunya yang membuat ibunya  kecewa.sehingga ia mendo’akan kejelekan bagi Juraij, dan ALLAH  mengabulkan doa tersebut:- , sebagaimana yang dikisahkan oleh Rasulullah&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di  dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, cukuplah menjadi bukti betapa  besar akibatnya jika salah satu saja hak orang tua dilanggar oleh  anaknya.&lt;br /&gt;Perhatikanlah,&amp;nbsp; seorang seperti Juraij -yang karena  melalaikan panggilan ibunya dengan alasan ibadah- saja sudah mendapatkan  cobaan dan fitnah yang sedemikian hebatnya. Maka bagaimana pula jika  perbuatan (melalaikan panggilan ibu) itu dilakukan oleh bukan seorang  ahli ibadah dan terlebih lagi bukan karena alasan ibadah, bahkan alasan  yang sangat sepele, malas atau karena sedang asyik bermain, misalnya.&lt;br /&gt;Dan di antara bentuk-bentuk kedurhakaan atau perbuatan yang mengarah kepadanya itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Berkata Kasar Kepada Orang Tua.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  orang tua membiarkan anaknya berkata atau berbicara kasar kepadanya,  berharap nanti juga kalau sudah besar akan mengerti. Tentu saja ada  kebiasaan buruk pada anak yang akan hilang dengan sendirinya seiring  umur dan perkembangan nalarnya. Namun tidak semua. Ada pula yang kalau  dibiarkan, maka akan semakin bertambah dan menjadi kebiasaannya.&lt;br /&gt;Islam  sangat memperhatikan masalah bagaimana seharusnya seorang anak bertutur  kata kepada orang tuanya. ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- berfirman:&lt;br /&gt;فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;maka  janganlah kau mengucapkan (-perkataan) Ah.. kepada keduanya, dan jangan  kau hardik mereka. Dan ucapkapkan kepada mereka perkataan yang mulia&lt;/em&gt;.”) (Al Isra’:23)&lt;br /&gt;Maka berucap kasar -seperti&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Ah&lt;/strong&gt;..,&lt;strong&gt;Uh&lt;/strong&gt;..,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Chk&lt;/strong&gt;-  , meninggikan suara, atau mengeraskannya merupakan bentuk-bentuk  kedurhakaan kepada mereka. Dan hendaknya sejak kecil anak sudah  dibiasakan berkata halus dan merendahkan suara di hadapan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membantah Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  tanpa disadari kita membiarkan anak membantah kita -orang tua-, yakni  manakala mereka tak mendengar nasihat dan arahan kita, atau tidak  mengerjakan perintah kita. Dan semua bentuk penolakan ini -padahal  seandainya semua itu perkara yang ma’ruf- tidak lain adalah wujud  kesombongan anak di hadapan orang tua, merasa lebih pintar dan lebih  tahu apa yang harus dilakukan atau diperbuat. Apa salah atau susahnya  mereka mendengar dan menta’ati kita di dalam hal yang tidak bertentangan  dengan syari’at ? Padahal ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- mewajibkan  seorang anak untuk merendahkan diri di hadapan orang tuanya:&lt;br /&gt;وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;dan rendahkanlah dirimu di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang&lt;/em&gt;…”) (Al Isra’:24)&lt;br /&gt;Imam Al Qurtubi -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata (di dalam Al Jami’ Li Ahkaamil Qur’an): “&lt;em&gt;Termasuk  ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi / menentang  keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah,  sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang  menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau  keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu  bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan  perkara wajib tapi mubah pada asalnya&lt;/em&gt;…”&lt;br /&gt;Maka, membantah orang  tua tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at merupakan bentuk  kedurhakaan kepada orang tua. Dan kita tidak boleh membiarkan anak  berlaku demikian kepada kita -sebagai orang tuanya-.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Tidak Memenuhi Panggilannya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manusia  adalah makhluq bermasyarakat yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka  harus tolong-menolong di dalam memenuhi kebutuhannya. Di dalam sebuah  keluarga pun demikian. Adakalanya, bahkan sering mungkin orang tua  memerlukan bantuan atau pertolongan anak untuk memenuhi hajatnya. Maka,  menjawab dan memenuhi panggilan orang tua merupakan di antara perbuatan  berbakti kepada mereka, sedangkan melalaikannya adalah perbuatan  durhaka. Kisah Juraij cukup menjadi bukti.&lt;br /&gt;Kita -orang tua-  hendaknya sering mengingatkan anak tentang kisah Juraij. Sering-sering  pulalah memanggil mereka -untuk keperluan ini dan itu- ketika mereka  sedang di dalam kesibukannya, apalagi kalau hanya bermain, di dalam  rangka melatih mereka menjawab panggilan orang tua, melatih kesigapan  mereka memenuhi hajat orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Mencerca Dan Mempermalukan Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap  anak wajib memuliakan orang tua dan menjaga kehormatannya, sebagai  wujud baktinya kepada mereka. Maka merendahkan orang tua dan  mempermalukannya merupakan perbuatan yang tak seorang pun mengingkarinya  sebagai durhaka.&lt;br /&gt;Hanya saja banyak yang melakukannya tanpa mereka  sadari. Mereka tidak menyadari bahwa mereka -dengan perbuatan atau  kelakuannya- telah menjadi sebab dicercanya orang tua mereka dan  dipermalukan. Perhatikanlah hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله ابن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إن من أكبر الذنب أن يسب الرجل والديه&lt;br /&gt;قالوا : وكيف يسب الرجل والديه&lt;br /&gt;قال : يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه. (رواه أحمد)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, berkata, “&lt;em&gt;Sesungguhnya, termasuk perbuatan dosa besar itu antara lain seseorang mencerca orang tuanya&lt;/em&gt;.” Para Sahabat bertanya, “&lt;em&gt;Bagaimana mungkin seseorang itu sampai mencerca orang tuanya?&lt;/em&gt;‘ Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Ia  cerca bapaknya seseorang, sehingga seseorang itu pun balik mencerca  bapaknya. Ia cerca ibu seseorang, sehingga orang itu balik mencerca  ibunya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita -orang tua- mengingatkan anak  kita, bahwa manakala mereka mencerca, menghina, atau mempermalukan orang  tua temannya itu artinya ia telah mendurhakai orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membohongi Dan Menyusahkan Perasaan Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membohongi  orang tua dan menyusahkan perasaannya tentu merupakan suatu kedurhakaan  yang dapat mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya di  dunia. ALLAH -&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;- telah mengisahkan perbuatan ini di dalam kisah Nabi Yusuf -&lt;em&gt;alaihissalaam-&lt;/em&gt;, bagaimana saudara-saudara Yusuf -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;- membohongi ayah mereka (Ya’qub -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-),  bagaimana duka cita ayahnya, dan bagaimana penderitaan berkepanjangan  yang mereka alami, yang hanya melalui permohonan ampun dari orang tua  mereka sajalah ALLAH -&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;- akan mengampuni perbuatan durhaka tersebut.&lt;br /&gt;قَالُوا  يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ ()  قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ  الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;(Artinya;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata, “Wahai  ayah kami, mohonkanlah (-kepada ALLAH-) ampunan bagi kami atas  dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  (-Ya’qub-) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian.  Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&lt;/em&gt;.”) (Yusuf : 97-98)&lt;br /&gt;Maka  hendaknya kita -orang tua- mengawasi anak-anak dari kebiasaan  berbohong. Sampaikan kepada mereka akan durhakanya perbuatan tersebut  serta nasihatkan mereka untuk tidak berbohong, terutama kepada orang  tua. Ajarkan mereka terbiasa berterus terang kepada orang tuanya serta  waspadailah jika mereka mulai mencoba-coba berbohong. kepada kita -orang  tua-.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membebani Orang Tua Dan Memperbudaknya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merupakan  hak yang layak diperoleh orang tua dari anaknya, yakni dilayani dan  diringankan bebannya. Maka apabila seoarang anak tidak melayani dan  tidak meringkan beban orang tuanya, bahkan sebaliknya, ia minta dilayani  dan membebani orang tuanya, anak tersebut telah melakukan perbuatan  durhaka terhadap orang tuanya.&lt;br /&gt;Kedurhakaan model ini merupakan  satu di antara tanda-tanda akhir zaman -yang telah kita rasaskan  sekarang. Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- mengatakan demikian  ketika bersoal jawab dengan Malaikat Jibril:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال: فأخبرني عن الساعة.&lt;br /&gt;قال: “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل”&lt;br /&gt;قال: فأخبرني عن أمارتها.&lt;br /&gt;قال: “أن تلد الأمة ربتها. ….”&lt;br /&gt;(Jibril) bertanya. “&lt;em&gt;Beritakan kepadaku tentang Hari Kehancuran !&lt;/em&gt;” (Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-) menjawab, “&lt;em&gt;Tidaklah yang ditanyai lebih mengetahui dari yang bertanya.&lt;/em&gt;” (Jibril) kembali bertanya, “&lt;em&gt;Beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya !&lt;/em&gt;” (Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-) menjawab, “&lt;em&gt;Budak wanita melahirkan majikannya&lt;/em&gt;….” (HR; Muslim)&lt;br /&gt;Di antara ma’na ungkapan Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa salla&lt;/em&gt;- “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Budak wanita melahirkan majikannya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;…” (-sebagaimana dijelaskan Al Hafidz Ibnu Hajar -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  di dalam Al Fath-) adalah terjadinya banyak kedurhakaan, di mana anak  memperlakukan ibunya seperti seorang tuan terhadap budaknya. Bukannya  anak yang melayani dan meringankan beban orang tuanya, tetapi  sebaliknya. Orang tua disuruh ini dan itu, dititipi cucu, jaga rumah,  dan sebagainya dari kebiasaan pekerjaan-pekerjaan pembantu. Dan ini  merupakan bentuk-bentuk kedurhakaan.&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita -orang tua- berhati-hati terhadap munculnya gejala kedurhakaan pada anak dengan tidak memanjakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Tidak Berterima Kasih Atas Pemberian Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berterima  kasih kepada orang tua merupakan kewajiban setiap anak Adam. Bahkan  perbuatan tersebut ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa gandengkan dengan  bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;agar engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian.&lt;/em&gt;..”) (Luqman: 14)&lt;br /&gt;Bahkan belumlah seseorang dikatakan bersyukur kapada ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sebelum ia mampu berterima kasih kepada sesama manusia, sebagaimana sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .&lt;br /&gt;هذا حديثٌ صحيحٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;-, berkata: Telah bersabda Rasulullah&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-:&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.&lt;/em&gt;” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)&lt;br /&gt;Apalagi,  tentunya, jika tidak berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Padahal  orang tua adalah manusia yang paling dekat dan paling terlihat kasih  sayang dan pengorbanannya. Sampai-sampai ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;mengingatkan kepada kita:&lt;br /&gt;حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;ibunya  telah memeliharanya di dalam kandungan dalam keadaan susah payah yang  senantiasa bertambah, dan menyapihnya dalam dua tahun&lt;/em&gt;…”)&lt;br /&gt;Tentu  saja pengorbanan orang tua tidak hanya sampai di situ. Karenanya  seseorang yang tidak bersyukur kepada mereka artinya telah melakukan  kedurhakaan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari -di dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al Adabul Mufrad&lt;/em&gt;- : Ketika Abdullah bin Umar -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;-  melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana  saja ibunya menginginkan, orang tersebut bertanya kepadanya, “&lt;em&gt;Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?&lt;/em&gt;” Abdullah bin Umar -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;- menjawab, “&lt;em&gt;Belum. Setetes (-keringatnya-) pun engkau tidak dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu&lt;/em&gt;.” Dan Ibnu Abbas -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;- berkata tentang firman ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;أَ َنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْك&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;,”&lt;em&gt;Maka,  barangsiapa yang bersyukur kepada ALLAH akan tetapi dia tidak bersyukur  pada kedua orang tuanya, ALLAH tidak akan menerima rasa syukurnya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka  hendaknya para orang tua pun mengambil pelajaran bagaimana mendidik  anak-anak mereka agar kelak menjadi anak yang bersyukur. (Baca  pembahasan serupa pada tulisan saya berjudul: “Lihatlah Bagaimana Orang  Tuanya Diperlakukan!”)&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi bentuk kedurhakaan  anak kepada orang tuanya, seperti :mendiamkan mereka, malu mengakui  mereka sebagai orang tua, tidak mendo’akan mereka, mendahulukan orang  lain di atas mereka, dan sebagainya. Padahal ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;telah memerintahkan anak memperlakukan kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya : وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا (…&lt;em&gt;pergaulilah keduanya secara ma’ruf&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita bertobat kepada ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;,  memohon ma’af kepada kedua orang tua, serta memperbaiki mu’amalah kita  kepada mereka, seandainya kita telah melakukan perbuatan durhaka kepada  mereka. Kemudian kita didik anak kita menjadi anak yang berbakti kepada  orang tuanya (kita) seraya menutup jalan-jalan yang dapat mengantarkan  mereka kepada kedurhakaan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Sebelum Anak Terlanjur&amp;nbsp;Cerdas”&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maret 17, 2009&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Posted by rumahbelajaribnuabbas in&amp;nbsp;Pendidikan.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tags:&amp;nbsp;Amanah,&amp;nbsp;Cerdas,&amp;nbsp;Emotional  Quotient.,&amp;nbsp;Islam. Pendidikan Anak,&amp;nbsp;jujur,Kecerdasan  Emosional,&amp;nbsp;Kecerdasan  Spiritual,&amp;nbsp;Kuat,&amp;nbsp;Lemah-Lembut,&amp;nbsp;Rajin,Sopan-Santun,&amp;nbsp;Spiritual Quotient&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;25 comments&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Abu Khaulah Zainal Abidin&lt;br /&gt;Terlanjur  cerdas ? Cerdas koq bisa terlanjur ? Bukankah setiap orang mendambakan  anaknya cerdas ? Apalagi kata “terlanjur” &amp;nbsp;&amp;nbsp;konotasinya jelek . -suatu  yang tidak diharapkan-, &amp;nbsp;seperti; &amp;nbsp;&lt;em&gt;terlanjur basah&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;terlanjur jatuh&lt;/em&gt;, atau&lt;em&gt;terlanjur menjadi bubur&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;Anak  cerdas, siapa tak mau ? Tetapi itu bukan segala-galanya. Terlebih kalau  ia dijadikan dasar bagi segala pertimbangan, mengalahkan bekal-bekal  hidup lainnya yang mutlak dimiliki setiap manusia. Apalagi jika yang  dimaksud cerdas itu tak lebih dari sebentuk kemampuan menalar, memahami,  dan menarik kesimpulan, atau sekedar mampu berpikir logis , menemukan  dan memecahkan jawaban-jawaban matematis.&lt;br /&gt;Bahkan sekalipun  kecerdasan itu -juga- meliputi kemampuan mengenal dan mengelola perasaan  diri, &amp;nbsp;yang dengannya seseorang mampu memahami kemudian merespon orang  lain melalui sikap dan tindakan. Sejenis potensi -yang menurut teori  Emotional Quotient (EQ)-nya Goleman- berupa kecerdasan emosional, yang  berfungsi mengimbangi kecerdasan intelektual !&lt;br /&gt;Bahkan sekalipun  kecerdasan itu -juga- berupa kemampuan memahami akan &amp;nbsp;nilai-nilai dan  makna kehidupan, menumbuhkan harapan-harapan serta keyakinan. Sejenis  potensi -yang menurut teori Spiritual Quotient (SQ)-nya Danah Zohar dan  Ian Marshall- berupa kecerdasan spiritual, yang berfungsi mengimbangi  bahkan mengendalikan kecerdasan intelektual dan emosional sekaligus  !&amp;nbsp;(lagi…)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Wasiat Luqman Kepada Anaknya”&amp;nbsp;(Pertama)&lt;em&gt;Desember 26, 2008&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Posted by rumahbelajaribnuabbas in .&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2 comments&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Abu Khaulah Zainal Abidin&lt;br /&gt;Luqman adalah hamba ALLAH yang sholeh, yang ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;abadikan nama, wasiat, dan sebagian kisahnya di dalam AL Qur’an. ALLAH&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengaruniainya Al Hikmah, sehingga jadilah ia hamba yang bersyukur kepada ALLAH. Dan ketika para Sahabat -&lt;em&gt;radhiallahu anhum&lt;/em&gt;- gelisah dan khawatir -dengan adanya peringatan ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;terhadap  orang-orang yang mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman (الَّذِينَ  آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْم&lt;strong&gt;ٍ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;/Al An’aam: 82)- Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- segera mengingatkan mereka kepada ucapan Luqman di dalam Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ألم تسمعوا ما قال العبد الصالح&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;:….&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan seorang hamba yang sholeh&lt;/em&gt;:…..)&lt;br /&gt;Maka, hendaknya kita pun mengambil pelajaran dari wasiat Luqman kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengawali  wasiat Luqman ini dengan menggambarkan keutamaan Luqman -berupa hikmah,  yakni ilmu dan kefahaman-. Dan ALLAH mengawalinya pula dengan perintah  untuk bersyukur kepada ALLAH serta manfa’atnya :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلَقَدْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;آَتَيْنَا  لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا  يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artinya: (&lt;em&gt;Dan  sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman (-yaitu-); Bersyukur  kepada-Ku. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka seseungguhnya ia  bersyukur untuk dirinya. Dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur),  maka sesungguhnya ALLAH itu Maha Kaya lagi Terpuji&lt;/em&gt;.) (Luqman: 12)&lt;br /&gt;Kemudian ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;berfirman:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  (-ingatlah-) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia  memberikan wejangan: “Wahai anakku, janganlah kau sekutukan ALLAH.  Sesungguhnya perbuatan menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang  sangat besar.”&lt;/em&gt;) (Luqman: 13)&lt;br /&gt;Kata (&lt;strong&gt;وَهُوَ يَعِظُهُ&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;) di dalam ayat ini menggambarkan bagaimana Luqman dalam keadaan menyengaja memberikan wejangan kepada anaknya.&lt;br /&gt;Inilah  pelajaran pendahuluan -bagi para orang tua- dari kisah Luqman, yakni  menyengaja memberikan wejangan kepada anak-anaknya, terutama tentang  perkara-perkara yang penting mereka ketahui dan amalkan. Seorang kepala  keluarga hendaknya menyiapkan waktu-waktu khusus untuk memberikan  wejangan kepada anak-anak dan isterinya. Orang tua -terutama ayah- harus  membiasakan dan melatih diri berbicara di hadapan anak di dalam suasana  memberikan pelajaran atau nasihat.&lt;br /&gt;Mengadakan majelis keluarga  sangat besar manfaatnya, baik bagi orang tua -yang memberi wejangan-  maupun bagi anak -yang mendengarkannya-. Suasana bermajelis akan  menimbulkan komunikasi dua arah yang lebih dari sekedar obrolan, dan  menumbuhkan keterbukaan di antara orang tua dan anak.. Kesan formal yang  ditimbulkannya juga dapat membantu menjaga “posisi” orang tua – anak,  atau bahkan memperbaikinya. Anak juga -kemudian- akan melihat orang  tuanya sebagai pendidik atau pemberi arahan dan nasihat, bukan sekedar  pencari nafkah bagi keluarga. Orang tua juga -kemudian- akan melihat  anaknya sebagai murid atau anak didik, bukan sekedar keturunan atau  anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wasiat Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Wahai  anakku, janganlah kau sekutukan ALLAH. Sesungguhnya perbuatan  menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang sangat besar.”&lt;/em&gt;) (Luqman: 13)&lt;br /&gt;Inilah wasiat pertama Luqman kepada anak-anaknya, yakni berupa&lt;strong&gt;peringatan untuk menjauhi perbuatan mensyarikatkan (menyekutukan) ALLAH serta penjelasan akan bahayanya.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Inilah  perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua, yakni  perhatian terhadap aqiedah anak-anaknya. Perhatian untuk menjaga fitrah  anak-anaknya agar tetap dalam keadaan mentauhidkan ALLAH. Perhatian  untuk menyelamatkan anak-anaknya dari terjerumus ke dalam kesyirikan.&lt;br /&gt;Sudah  seharusnya orang tua mempunyai kekhawatiran terhadap aqiedah anak-anak  mereka kelak sepeninggalnya. Artinya, orang tua harus membekali anak  dengan ilmu yang cukup agar anak-anaknya kelak tetap mentauhidkan ALLAH.  Perhatikanlah apa yang diwasiatkan Nabi Ibrahim -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-. kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَوَصَّى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;بِهَا  إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى  لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  Ibrahim-pun mewasiatkan anaknya tentang itu, demikian pula Ya’qub,  “Wahai anak-anakku. Sesungguhnya ALLAH telah memilih agama ini (-Islam-)  bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali di dalam keadaan sebagai  muslim.”&lt;/em&gt;) (Al Baqarah: 132)&lt;br /&gt;Demikian pula kekhawatiran Nabi Ya’qub -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;- terhadap aqiedah anak-anaknya, sehingga dia memerlukan kepastian berupa janji anak-anaknya untuk tetap mentauhidkan ALLAH.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Adakah  kamu hadir ketika (-tanda-tanda-) maut mendatangi Ya’qub, ketika ia  berkata kepada anakanaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”  Mereka menjawab,”Kami akan menyembah rabb-mu, rabb nenek moyangmu;  Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (-yaitu-) Rabb Yang Maha Esa, dan kami  hanya tunduk kepada-Nya.”&lt;/em&gt;) (Al Baqarah:133)&lt;br /&gt;Cukuplah kedua contoh (Nabi Ibrahim dan Ya’qub -&lt;em&gt;alaihimassalaam&lt;/em&gt;-)  di atas menjadi pelajaran bagi kita -para orang tua-, bahwa hendaknya  kita lebih khawatir terhadap perkara agama atau aqiedah anak-anak kita  ketimbang ”&amp;nbsp;&lt;em&gt;Di mana nanti mereka tinggal ?&lt;/em&gt;” atau “&lt;em&gt;Siapa yang akan memberi mereka makan?&lt;/em&gt;” -sebagaimana sering dikhawatirkan kebanyakan orang tua akan nasib anak-anaknya sepeninggal mereka.&lt;br /&gt;Tauhid  (Mengesakan ALLAH) merupakan perkara terpenting yang ALLAH perintahkan  atas hamba-Nya. Demikian pula, Syirik (Menyekutukan ALLAH) merupakan  perkara terpenting yang ALLAH larang atas hamba-Nya. Oleh karenanya  tidaklah ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;mengutus rasul-Nya di setiap jaman, kecuali mereka mengajak manusia kepada Tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan telah Kami utus pada setiap umat rasul (-untuk menyeru-), “Sembahlah ALLAH, dan jauhilah Thaghut!”&lt;/em&gt;) (An-Nahl:36)&lt;br /&gt;Maka  perkara Tauhid dan Syirik menjadi hal terpenting pula yang harus  diajarkan kepada anak sedini mungkin. Keduanya (menanamkan Tauhid dan  menjauhi perbuatan Syirik) dilakukan bersamaan, karena tidaklah ALLAH  memerintahkan hamba-Nya mentauhidkan ALLAH kecuali bersamaan pula dengan  itu melarangnya berbuat syirik.&lt;br /&gt;Menanamkan Tauhid kepada anak  -sejak dini- dan menjauhkan mereka dari perbuatan syirik ditempuh dengan  menumbuhkan penghayatan melalui pembiasaan -sholat dan berdo’a,  misalnya-, serta menjauhkan mereka dari rasa takut yang tidak beralasan  (-&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;-). Di samping itu juga melalui pendekatan nalar manakala kemampuan menalarnya sudah memadai.&lt;br /&gt;Mengajari  anak lafadz-lafadz do’a dan dzikir serta membiasakan mereka berdo’a  merupakan cara pertama menanamkan Tauhid kepada anak, karena (-baca juga  tulisan saya yang berjudul “&lt;strong&gt;Berdo’alah Kalian…!&lt;/strong&gt;“-) :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan adanya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH itu ada&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui-nya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH itu Maha Mendengar&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(-apa yang disampaikan oleh hamba-Nya-)&amp;nbsp;&lt;strong&gt;dan Maha Mengetahui&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(-apa yang diperbuat oleh hamba-Nya dan segala permasalahan yang dihadapi mereka-).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan Maha Kaya-nya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH Maha Kaya&lt;/strong&gt;(-dan Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu-) serta mampu memenuhi seluruh kebutuhan hamba-Nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a  merupakan tanda baik sangkanya seseorang terhadap ALLAH -karena  mustahil seseorang berdo’a dan memohon kepada ALLAH kecuali karena dia  berharap dan menyangka bahwa ALLAH pasti akan mengabulkan do’a dan  memenuhi permintaannya-, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan perasaan senantiasa berbaik sangka kepada ALLAH&lt;/strong&gt;, sebagaimana hal itu wajib dimiliki oleh setiap muslim terhadap rabb-nya. Bukankah Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- telah mewasiatkan kita akan hal itu;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;عن جابر بن عبدالله الأنصاري، قال&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قبل موته بثلاثة أيام، يقول&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Dari Jabir bin Abdillah Al Anshary, berkata:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Aku  mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata -tiga hari  sebelum wafatnya- ,”Janganlah di antara kalian mati, kecuali di dalam  keadaan berbaik sangka kepada ALLAH Azza wa Jalla&lt;/em&gt;.”) (HR:Muslim)&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda rasa butuhnya seorang hamba akan&amp;nbsp;&lt;em&gt;rabb&lt;/em&gt;-nya  -karena mustahil seseorang meminta kepada yang lain jika ia merasa  mampu memenuhinya sendiri- serta pengakuan bahwasanya ALLAH lah  satu-satunya tempat meminta pertolongan -sebuah pengakuan yang juga  diucapkan setiap muslim di dalam sholatnya-, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak  berdo’a itu artinya juga menanamkan perasaan butuh akan ALLAH dan  pengakuan bahwasanya ALLAH sajalah satu-satunya yang layak diibadahi dan  dimintai pertolongan&lt;/strong&gt;. Dan ini (berdo’a) merupakan inti ibadah  serta wujud mengesakan (mentauhidkan) ALLAH yang paling nyata. Ini  pulalah di antara hikmah kalimat-kalimat Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;-Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- kepada Ibnu Abbas -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;- :&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله،&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(“…&lt;em&gt;Jika kau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada ALLAH&lt;/em&gt;…”) (HR: At-Ttirmidzi)&lt;br /&gt;Kemudian, menjauhkan anak dari perasaan takut yang tidak beralasan (-&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;-) juga merupakan cara pertama untuk menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada kesyirikan.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Khauf Sirry&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(takut  tersembunyi) adalah sejenis takut yang tidak beralasan dan bukan  merupakan tabi’at asal manusia. (-baca juga tulisan saya yang berjudul “&lt;strong&gt;Kenapa Harus Takut?&lt;/strong&gt;“-). Yang termasuk&amp;nbsp;&lt;em&gt;Khauf Sirry&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ini  adalah seperti; takutnya seseorang kepada cerita-cerita hantu dan  sejenisnya, yang ini -sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Muhammad  bin Sholih Al Utsaimin -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa-&amp;nbsp;&lt;/em&gt;di dalam Syarah  Tsalatsatul Ushul- merupakan jenis kesyirikan. Karena tidaklah seorang  takut kepada yang tidak beralasan untuk ditakuti itu kecuali karena ada  keyakinan bahwa sesuatu tersebut memiliki kemampuan tertentu -seperti  mendatangkan manfaat atau mudharat-.&lt;br /&gt;Syirik tumbuh tidak lain karena ada keyakinan bahwa ada sesuatu (benda mati atau makhluq hidup) selain ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subahaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang  memiliki sifat-sifat ilaahiyah (berhak diibadahi: disembah, dimintai  pertolongannya, dicintai, ditakuti, dijadikan tempat bergantung). Dan  kecenderungan yang pertama kali tumbuh pada manusia -terutama anak-anak-  adalah rasa takut. Maka hendaknya anak-anak dijauhkan dari  cerita-cerita atau khayalan-khayalan yang membuat tumbuhnya&amp;nbsp;&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;&amp;nbsp;pada jiwa mereka. Karena&lt;strong&gt;&amp;nbsp;bibit-bibit kesyirikan pertama kali tumbuh di dalam jiwa anak melalui takut yang tidak beralasan&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;ini&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedua (mengajari anak berdo’a dan menjauhkan mereka dari cerita atau khayalan yang bisa menumbuhkan&amp;nbsp;&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;)  hal inilah yang merupakan pendekatan pembiasaan dan penghayatan yang  bisa kita tempuh di dalam rangka menanamkan Tauhid dan menjauhi Syirik  pada jiwa anak-anak kita. Di dalam rangka pembiasaan -agar dengannya  tumbuh keyakinan- ini pulalah mengapa anak -meskipun belum mencapai usia  mampu membedakan baik dan buruk- sudah harus diajari sholat.&lt;br /&gt;Di  samping itu -bagi mereka yang sudah bisa diajak berpikir serta mampu  membedakan yang baik dan yang buruk- hendaknya kita pergunakan pula  cara-cara dengan pendekatan nalar. Melalui pendekatan nalar lah  keyakinan yang sudah tumbuh melalui pendekatan pembiasaan tadi  mendapatkan alasan logisnya.&lt;br /&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;berfirman:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَأيُّهَا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;النَّاسُ  اعبُدُوا ربَّكُمُ الذَِّي خَلَقَكُم وَالذِّينَ مِن قَبلكُم لَعَلَّكُم  تَتَّقُونَ(21) الّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرضَ فِرَاشًا وَالسَّمآءَ بِنآءً  وَأنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَاَءً فَأخرَجَ بِهِ مِن الثَّمراتِ رِزقًا  لّكُم فَلاَ تَجعَلُواْ لَلَّهِ أندَادًا وَأنتُم تَعَلُمونَ [البقرة:22،21&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;].&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Wahai  manusia. Ibadahilah rabb-kalian Yang telah menciptakan kalian dan  orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dia-lah Yang  menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagi atap serta  menurunkan hujan, lalu Dia keluarkan darinya segala macam buah-buahan  sebagai rezki bagi kalian. Karena itu janganlah kalian mengada-adakan  sekutu bagi ALLAH, padahal kamu mengetahui&lt;/em&gt;.) (Al Baqarah 21-22)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;قال ابن كثير رحمه الله تعالى: ( الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Ibnu Katsir -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa&lt;/em&gt;- berkata (-di dalam tafsirnya): “&lt;em&gt;Yang Menciptakan segala itu semua tak lain adalah yang paling berhaq diibadahi&lt;/em&gt;.”)&lt;br /&gt;Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -&lt;em&gt;rahimahullah ta’alaa&lt;/em&gt;- (-di dalam Syarah Tsalaatsatul Ushul-) :&lt;br /&gt;“(-maksudnya-)&amp;nbsp;&lt;em&gt;jangan  buat tandingan terhadap yang telah menciptakan kalian, orang-orang  sebelum kalian, bahkan telah menjadikan bumi sebagai hamparan kalian,  menjadikan langit sebagai atap, dan menurunkan hujan yang darinya Ia  keluarkan berbagai macam buah-buahan, yang kemudian kalian beribadah  kepada tandingan tadi sebagaimana seakan-akan kalian beribadah kepada  ALLAH, yang kemudian kalian cintai sebagaimana seakan-akan kalian cintai  ALLAH. Sesungguhnya perbuatan semacam itu tidaklah pantas bagi kalian  -baik secara aqal maupun secara syar’i.&lt;/em&gt;“&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan satu contoh betapa ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;menuntut  nalar kita untuk mengakui kekuasaan-Nya dengan cara mengesakan-Nya di  dalam peribadatan, yakni tidak menyekutukan atau menyetarakan ALLAH  dengan sesuatu apapun, baik di dalam do’a dan pengharapan maupun di  dalam cinta dan keta’atan.&lt;br /&gt;Ketika Luqman -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-  berwasiat kepada anaknya agar tidak menyekutukan ALLAH, ia menjelaskan  bahwa perbuatan tersebut (syirik) merupakan kedzaliman yang sangat  besar. Dan memang tak ada kata atau istilah yang lebih tepat untuk  mengungkapkan atau menggambarkan tentang bahaya dan buruknya syirik,  kecuali kata&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;dzulmun ‘adziimun&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(kedzaliman  yang sangat besar) Ini juga bentuk pendekatan nalar. Karena mustahil  menjelaskan (baca: menyifati) sesuatu dengan sesuatu yang tidak  dimengerti. Maka tentu anaknya pun sudah memahami arti atau makna&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Karenanya,  ketika sudah saatnya kita menjelaskan kepada anak -melalui pendekatan  nalar- keutamaan Tauhid serta buruk dan bahayanya Syirik, mereka juga  harus sudah mengenal dan terbiasa mendengar kosa kata yang memuat  pengertian atau konsep-konsep penting; seperti kata&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt;&amp;nbsp;-dan tentu saja menurut Islam-, karena mustahil menjelaskan&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;&amp;nbsp;tanpa lebih dahulu memahami konsep&lt;em&gt;&amp;nbsp;adil&lt;/em&gt;, dan mustahil menjelaskan buruk dan bahayanya syirik tanpa lebih dahulu memahami konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Kita dapat memperkenalkan kosep&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&amp;nbsp;&lt;/em&gt;kepada anak melalui cara yang sederhana, seperti: “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu ibarat engkau menimbang sesuatu tidak berat atau panjang sebelah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Maka,  manakala engkau menimbang sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya  pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu tetap dalam keadaan  rata, itu artinya kau telah menimbang dengan adil, dan tentunya engkau  suka melihat keadilan semacam ini&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah sesuai dengan besar kesalahannya.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Maka,  manakala kau menghukum atau membalas kesalahan orang yang bersalah  secara tidak berlebihan, atau membedakan antara hukuman bagi anak kecil  yang bersalah dengan hukuman bagi orang dewasa, itu artinya kau telah  berbuat adil; dan tentunya kau juga senang jika diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu manakala engkau menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maka,  manakala engkau menempatkan kambing di kandang kambing dan harimau di  kandang harimau -tidak sebaliknya atau tidak mengumpulkan mereka dalam  satu kandang-, itu artinya kau telah berbuat adil. Atau manakala seorang  bapak menunaikan kewajibannya sebagai bapak dan anak menunaikan  kewajibannya pula sebagai anak, itu artinya mereka telah berbuat adil.  dan tentunya kau juga senang melihat yang demikian&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Pengertian dan penghayatan anak -juga manusia pada umumnya- terhadap konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sangat bergantung kepada pengertian dan penghayatan mereka terhadap konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&amp;nbsp;&lt;/em&gt;di atas&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Maka  perhatikanlah, sungguh sangat tidak aneh kalau orang-orang kafir -yang  menganggap adil itu adalah sekedar sama rata sama rasa- kemudian  melahirkan ideologi komunisme. Juga sungguh sangat tidak aneh kalau ada  muslim -yang tidak memahami konsep&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt;&amp;nbsp;menurut Islam ini- termakan oleh propaganda Liberalisme, Emansipasi wanita, dan semacamnya.&lt;br /&gt;Setelah anak memahami&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt;&amp;nbsp;, tentu akan lebih mudah bagi kita menjelaskan makna&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang merupakan lawannya:&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu ibarat kau menimbang sesuatu dengan berat sebelah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;em&gt;Maka,  manakala engkau mengukur sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya  tidak pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu menjadi miring  ke salah satu arah, itu artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya  kau tidak suka melihat keadaan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah dengan hukuman yang tidak sesuai dengan besar kesalahannya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maka,  manakala engkau menghukum atau membalas kesalahan seseorang secara  berlebihan sehingga melebihi besar atau tingkat kesalahannya, itu  artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya kau tidak suka  diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu manakala engkau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maka,  manakala engkau memperlakukan anak seperti orang tua atau sebaliknya,  itu artinya kau telah berbuat dzalim. Manakala engkau menghormati orang  yang senang berbuat maksiat dan menghina orang yang selalu mengerjakan  keta’atan, itu artinya kau telah berbuat dzalim. dan tentunya kau tidak  senang diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka, bagaimana jika ada  yang menyamakan atau menyejajarkan sesuatu yang tidak pantas  dipersamakan atau disejajarkan? Bagaimana jika ada yang menyamakan atau  mendudukkan makhluq pada kedudukan Al Khaliq (Pendipta)? Bagaimana kalau  ada orang menyembah sesuatu yang tidak pantas bahkan tidak berhak untuk  disembah? Jawabnya,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;”&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Itu semua adalah perbuatan dzalim, bahkan yang paling dzalim.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Dan tak ada kedzaliman yang lebih besar mengalahi dzalimnya perbuatan (syirik) tersebut. “إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-3516905733928215721?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/3516905733928215721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-luqman-kepada-anaknya-bagian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/3516905733928215721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/3516905733928215721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-luqman-kepada-anaknya-bagian.html' title='Wasiat Luqman Kepada Anaknya (Bagian Tiga)'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-8729608924879941807</id><published>2011-06-20T22:14:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T22:14:24.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feature'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Wasiat Lukman Kepada Anaknya (Bagian Dua)</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="img" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/215843_10150167169941871_677471870_7035102_4693032_a.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Wasiat Ke-dua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ&lt;br /&gt;أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada  kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang  bertambah-tambah serta menyapihnya dalam dua tahun. Agar bersyukur  kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian. Hanya kepada-Ku lah kamu  kembali.&lt;/em&gt;) (Luqman: 14)&lt;br /&gt;Setelah sebelumnya, pada wasiat  pertama, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengabarkan Wasiat Luqman kepada  anaknya -berupa larangan berbuat syirik-, maka pada ayat ini  (selanjutnya) ALLAH secara langsung mewasiatkan kepada segenap manusia  agar berbuat baik kepada kedua orang tua mereka. Namun hakekatnya, ini  juga merupakan wasiat Luqman kepada anaknya yang ALLAH kabarkan kepada  seluruh manusia.&lt;br /&gt;Imam Al Qurthuby -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa&lt;/em&gt;- menjelaskan di dalam tafsirnya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ini  adalah di antara yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya -yang ALLAH  kabarkan tentangnya-. Yaitu, Luqman berkata kepada anaknya: “Jangan  sekutukan ALLAH dan jangan ta’ati kedua orang tuamu di dalam berbuat  syirik. Karena sesungguhnya ALLAH telah memerintahkan dengannya, yakni  menta’ati keduanya di dalam hal-hal yang bukan merupakan kesyirikan dan  ma’shiyat kepada ALLAH&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Masuknya perintah ALLAH di dalam  wasiat Luqman ini memberikan pelajaran tersendiri, yaitu bahwa ta’atnya  seorang anak kepada kedua orang tuanya merupakan bagian dari keta’atan  kepada ALLAH. Dan.tidaklah dikatakan ta’at kepada ALLAH atau bukanlah  itu yang dimaksud, seandainya seorang anak menta’ati (-ajakan atau  ajaran-) orang tua di dalam berma’shiyat kepada ALLAH. (-Akan dijelaskan  pada wasiat ke-tiga-).&lt;br /&gt;ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah  mewajibkan hamba-Nya agar berbuat baik (berbakti) kepada orang tuanya.  Bahkan -di berbagai tempat dan ungkapan- kewajiban tersebut senatiasa  disebutkan setelah perintah untuk mentauhidkan-Nya :&lt;br /&gt;وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  (-ingatlah-) ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra’il, agar  kalian (-wahai Bani Isra’il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan  agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.&lt;/em&gt;) (Al Baqarah: 83)&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan  sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua&lt;/em&gt;.)(An-Nisaa’:36)&lt;br /&gt;قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Katakanlah,”Marilah  kubacakan apa yang ALLAH haramkan atas kalian, yaitu: janganlah kalian  menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua  orang tua&lt;/em&gt;…&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;)(Al An’aam:151)&lt;br /&gt;وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua&lt;/em&gt;.)(Al Isra’:23)&lt;br /&gt;Hal  ini membuktikan, bahwa berbuat baik (berbakti) kepada orang tua  merupakan perkara yang pertama dan terpenting -di dalam urusan hablum  minannas- setelah mentauhidkan ALLAH.&lt;br /&gt;Dan apa yang ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;firmankan  melalui wasiat Luqman ini merupakan dalil wajibnya -bagi kita- untuk  berbakti kepada kedua orang tua sekaligus dalil wajibnya -bagi kita-  untuk mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berbakti  kepada orang tua. Setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya  mengetahui bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa ridho kepada seorang hamba  manakala hamba tersebut diridhoi orang tuanya, sebagaimana sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رضى الرب في رضى الوالد وسخط الرب في سخط الوالد&lt;br /&gt;(مستدرك الحاكم: و هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه)&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ridho ALLAH mengikuti ridho orang tua, dan kemurkaan ALLAH mengikuti kemurkaan orang tua.&lt;/em&gt;“&lt;br /&gt;Kemudian,  setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya mengetahui betapa  berbakti kepada kedua orang tua merupakan lahan ibadah yang sangat subur  dan kesempatan yang sangat berharga. Sehingga merugilah manusia yang  tidak mengambil kesempatan sebaik-baiknya di lahan ini. Perhatikanlah  Sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- ini dan ingat-ingatlah selalu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم. قال:”رغم أنف، ثم رغم أنف، ثم رغم أنف”&lt;br /&gt;قيل: من يا رسول الله ؟&lt;br /&gt;قال “من أدرك أبويه عند الكبر، أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة”.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;-, dari Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, berkata, “&lt;em&gt;Celaka, celaka, celaka !&lt;/em&gt;“. Beliau ditanya, “&lt;em&gt;Siapa, ya Rasulullah ?&lt;/em&gt;” Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Siapa yang memiliki orang tua -keduanya atau salah satunya- yang sudah lanjut usia, namun ia tidak masuk surga.&lt;/em&gt;:” (HR: Muslim)&lt;br /&gt;Lebih dari itu, berbakti kepada orang dapat menjadi sebab datangnya pertolongan ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subahaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di  saat-saat yang sangat kritis, di mana seseorang sangat membutuhkan  sekali bantuan atau pertolongan seseorang. Perhatikanlah kisah salah  seorang&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ashabul Ghori&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(pemuda yang terkurung di dalam gua).  Disebabkan amal sholeh -berupa ta’dzimnya kepada kedua orang tua- nya  selamatlah ia dari musibah yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua adalah:&lt;br /&gt;• Berkata dengan lemah lembut&lt;br /&gt;• Senantiasa mematuhinya di dalam hal perkara yang bukan ma’shiyat.&lt;br /&gt;• Senantiasa jujur kepadanya.&lt;br /&gt;• Berusaha membahagiakannya.&lt;br /&gt;• Meringankan bebannya.&lt;br /&gt;• Melayani dan mengutamakannya di atas selain mereka.&lt;br /&gt;• Pandai berterima kasih dan merasa cukup atas pemberian mereka.&lt;br /&gt;• Senantiasa mendo’akannya.&lt;br /&gt;• Menjaga silaturahmi dengan teman/ karabat orang tua sepeninggal mereka.&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi perbuatan ma’ruf yang termasuk ke dalam kategori birrul walidain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  ketika Luqman mewasiatkan anaknya agar berbakti kepada kedua orang tua  setelah mewasiatkan mereka agar mentauhidkan ALLAH, juga ketika perkara  birrul walidain ini senantiasa ALLAH kaitkan setelah perintah  mentauhidkan-Nya, itu artinya bahwa dosa terbesar yang dilakukan di  antara sesama manusia adalah durhakanya anak kepada kedua orang tuanya,  sebagaimana dosa terbesar yang dilakukan manusia terhadap ALLAH adalah  menyekutukan-Nya. Sampai-sampai ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;menyegerakan adzab-Nya bagi orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;Kisah  Juraij -seorang ahli ibadah yang lebih mengutamakan sholat nafilah  (sunnat)-nya ketimbang panggilan ibunya yang membuat ibunya  kecewa.sehingga ia mendo’akan kejelekan bagi Juraij, dan ALLAH  mengabulkan doa tersebut:- , sebagaimana yang dikisahkan oleh Rasulullah&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di  dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, cukuplah menjadi bukti betapa  besar akibatnya jika salah satu saja hak orang tua dilanggar oleh  anaknya.&lt;br /&gt;Perhatikanlah,&amp;nbsp; seorang seperti Juraij -yang karena  melalaikan panggilan ibunya dengan alasan ibadah- saja sudah mendapatkan  cobaan dan fitnah yang sedemikian hebatnya. Maka bagaimana pula jika  perbuatan (melalaikan panggilan ibu) itu dilakukan oleh bukan seorang  ahli ibadah dan terlebih lagi bukan karena alasan ibadah, bahkan alasan  yang sangat sepele, malas atau karena sedang asyik bermain, misalnya.&lt;br /&gt;Dan di antara bentuk-bentuk kedurhakaan atau perbuatan yang mengarah kepadanya itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Berkata Kasar Kepada Orang Tua.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  orang tua membiarkan anaknya berkata atau berbicara kasar kepadanya,  berharap nanti juga kalau sudah besar akan mengerti. Tentu saja ada  kebiasaan buruk pada anak yang akan hilang dengan sendirinya seiring  umur dan perkembangan nalarnya. Namun tidak semua. Ada pula yang kalau  dibiarkan, maka akan semakin bertambah dan menjadi kebiasaannya.&lt;br /&gt;Islam  sangat memperhatikan masalah bagaimana seharusnya seorang anak bertutur  kata kepada orang tuanya. ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- berfirman:&lt;br /&gt;فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;maka  janganlah kau mengucapkan (-perkataan) Ah.. kepada keduanya, dan jangan  kau hardik mereka. Dan ucapkapkan kepada mereka perkataan yang mulia&lt;/em&gt;.”) (Al Isra’:23)&lt;br /&gt;Maka berucap kasar -seperti&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Ah&lt;/strong&gt;..,&lt;strong&gt;Uh&lt;/strong&gt;..,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Chk&lt;/strong&gt;-  , meninggikan suara, atau mengeraskannya merupakan bentuk-bentuk  kedurhakaan kepada mereka. Dan hendaknya sejak kecil anak sudah  dibiasakan berkata halus dan merendahkan suara di hadapan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membantah Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  tanpa disadari kita membiarkan anak membantah kita -orang tua-, yakni  manakala mereka tak mendengar nasihat dan arahan kita, atau tidak  mengerjakan perintah kita. Dan semua bentuk penolakan ini -padahal  seandainya semua itu perkara yang ma’ruf- tidak lain adalah wujud  kesombongan anak di hadapan orang tua, merasa lebih pintar dan lebih  tahu apa yang harus dilakukan atau diperbuat. Apa salah atau susahnya  mereka mendengar dan menta’ati kita di dalam hal yang tidak bertentangan  dengan syari’at ? Padahal ALLAH -Subhaanahu wa ta’alaa- mewajibkan  seorang anak untuk merendahkan diri di hadapan orang tuanya:&lt;br /&gt;وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;dan rendahkanlah dirimu di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang&lt;/em&gt;…”) (Al Isra’:24)&lt;br /&gt;Imam Al Qurtubi -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata (di dalam Al Jami’ Li Ahkaamil Qur’an): “&lt;em&gt;Termasuk  ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi / menentang  keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah,  sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang  menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau  keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu  bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan  perkara wajib tapi mubah pada asalnya&lt;/em&gt;…”&lt;br /&gt;Maka, membantah orang  tua tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at merupakan bentuk  kedurhakaan kepada orang tua. Dan kita tidak boleh membiarkan anak  berlaku demikian kepada kita -sebagai orang tuanya-.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Tidak Memenuhi Panggilannya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manusia  adalah makhluq bermasyarakat yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka  harus tolong-menolong di dalam memenuhi kebutuhannya. Di dalam sebuah  keluarga pun demikian. Adakalanya, bahkan sering mungkin orang tua  memerlukan bantuan atau pertolongan anak untuk memenuhi hajatnya. Maka,  menjawab dan memenuhi panggilan orang tua merupakan di antara perbuatan  berbakti kepada mereka, sedangkan melalaikannya adalah perbuatan  durhaka. Kisah Juraij cukup menjadi bukti.&lt;br /&gt;Kita -orang tua-  hendaknya sering mengingatkan anak tentang kisah Juraij. Sering-sering  pulalah memanggil mereka -untuk keperluan ini dan itu- ketika mereka  sedang di dalam kesibukannya, apalagi kalau hanya bermain, di dalam  rangka melatih mereka menjawab panggilan orang tua, melatih kesigapan  mereka memenuhi hajat orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Mencerca Dan Mempermalukan Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap  anak wajib memuliakan orang tua dan menjaga kehormatannya, sebagai  wujud baktinya kepada mereka. Maka merendahkan orang tua dan  mempermalukannya merupakan perbuatan yang tak seorang pun mengingkarinya  sebagai durhaka.&lt;br /&gt;Hanya saja banyak yang melakukannya tanpa mereka  sadari. Mereka tidak menyadari bahwa mereka -dengan perbuatan atau  kelakuannya- telah menjadi sebab dicercanya orang tua mereka dan  dipermalukan. Perhatikanlah hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله ابن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إن من أكبر الذنب أن يسب الرجل والديه&lt;br /&gt;قالوا : وكيف يسب الرجل والديه&lt;br /&gt;قال : يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه. (رواه أحمد)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, berkata, “&lt;em&gt;Sesungguhnya, termasuk perbuatan dosa besar itu antara lain seseorang mencerca orang tuanya&lt;/em&gt;.” Para Sahabat bertanya, “&lt;em&gt;Bagaimana mungkin seseorang itu sampai mencerca orang tuanya?&lt;/em&gt;‘ Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Ia  cerca bapaknya seseorang, sehingga seseorang itu pun balik mencerca  bapaknya. Ia cerca ibu seseorang, sehingga orang itu balik mencerca  ibunya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita -orang tua- mengingatkan anak  kita, bahwa manakala mereka mencerca, menghina, atau mempermalukan orang  tua temannya itu artinya ia telah mendurhakai orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membohongi Dan Menyusahkan Perasaan Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membohongi  orang tua dan menyusahkan perasaannya tentu merupakan suatu kedurhakaan  yang dapat mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya di  dunia. ALLAH -&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;- telah mengisahkan perbuatan ini di dalam kisah Nabi Yusuf -&lt;em&gt;alaihissalaam-&lt;/em&gt;, bagaimana saudara-saudara Yusuf -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;- membohongi ayah mereka (Ya’qub -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-),  bagaimana duka cita ayahnya, dan bagaimana penderitaan berkepanjangan  yang mereka alami, yang hanya melalui permohonan ampun dari orang tua  mereka sajalah ALLAH -&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;- akan mengampuni perbuatan durhaka tersebut.&lt;br /&gt;قَالُوا  يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ ()  قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ  الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;(Artinya;&amp;nbsp;&lt;em&gt;Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata, “Wahai  ayah kami, mohonkanlah (-kepada ALLAH-) ampunan bagi kami atas  dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  (-Ya’qub-) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian.  Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&lt;/em&gt;.”) (Yusuf : 97-98)&lt;br /&gt;Maka  hendaknya kita -orang tua- mengawasi anak-anak dari kebiasaan  berbohong. Sampaikan kepada mereka akan durhakanya perbuatan tersebut  serta nasihatkan mereka untuk tidak berbohong, terutama kepada orang  tua. Ajarkan mereka terbiasa berterus terang kepada orang tuanya serta  waspadailah jika mereka mulai mencoba-coba berbohong. kepada kita -orang  tua-.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Membebani Orang Tua Dan Memperbudaknya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merupakan  hak yang layak diperoleh orang tua dari anaknya, yakni dilayani dan  diringankan bebannya. Maka apabila seoarang anak tidak melayani dan  tidak meringkan beban orang tuanya, bahkan sebaliknya, ia minta dilayani  dan membebani orang tuanya, anak tersebut telah melakukan perbuatan  durhaka terhadap orang tuanya.&lt;br /&gt;Kedurhakaan model ini merupakan  satu di antara tanda-tanda akhir zaman -yang telah kita rasaskan  sekarang. Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- mengatakan demikian  ketika bersoal jawab dengan Malaikat Jibril:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال: فأخبرني عن الساعة.&lt;br /&gt;قال: “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل”&lt;br /&gt;قال: فأخبرني عن أمارتها.&lt;br /&gt;قال: “أن تلد الأمة ربتها. ….”&lt;br /&gt;(Jibril) bertanya. “&lt;em&gt;Beritakan kepadaku tentang Hari Kehancuran !&lt;/em&gt;” (Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-) menjawab, “&lt;em&gt;Tidaklah yang ditanyai lebih mengetahui dari yang bertanya.&lt;/em&gt;” (Jibril) kembali bertanya, “&lt;em&gt;Beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya !&lt;/em&gt;” (Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-) menjawab, “&lt;em&gt;Budak wanita melahirkan majikannya&lt;/em&gt;….” (HR; Muslim)&lt;br /&gt;Di antara ma’na ungkapan Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa salla&lt;/em&gt;- “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Budak wanita melahirkan majikannya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;…” (-sebagaimana dijelaskan Al Hafidz Ibnu Hajar -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  di dalam Al Fath-) adalah terjadinya banyak kedurhakaan, di mana anak  memperlakukan ibunya seperti seorang tuan terhadap budaknya. Bukannya  anak yang melayani dan meringankan beban orang tuanya, tetapi  sebaliknya. Orang tua disuruh ini dan itu, dititipi cucu, jaga rumah,  dan sebagainya dari kebiasaan pekerjaan-pekerjaan pembantu. Dan ini  merupakan bentuk-bentuk kedurhakaan.&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita -orang tua- berhati-hati terhadap munculnya gejala kedurhakaan pada anak dengan tidak memanjakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;•&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Tidak Berterima Kasih Atas Pemberian Orang Tua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berterima  kasih kepada orang tua merupakan kewajiban setiap anak Adam. Bahkan  perbuatan tersebut ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa gandengkan dengan  bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;agar engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian.&lt;/em&gt;..”) (Luqman: 14)&lt;br /&gt;Bahkan belumlah seseorang dikatakan bersyukur kapada ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sebelum ia mampu berterima kasih kepada sesama manusia, sebagaimana sabda Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .&lt;br /&gt;هذا حديثٌ صحيحٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;-, berkata: Telah bersabda Rasulullah&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-:&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.&lt;/em&gt;” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)&lt;br /&gt;Apalagi,  tentunya, jika tidak berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Padahal  orang tua adalah manusia yang paling dekat dan paling terlihat kasih  sayang dan pengorbanannya. Sampai-sampai ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;mengingatkan kepada kita:&lt;br /&gt;حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ&lt;br /&gt;(Artinya: “…&lt;em&gt;ibunya  telah memeliharanya di dalam kandungan dalam keadaan susah payah yang  senantiasa bertambah, dan menyapihnya dalam dua tahun&lt;/em&gt;…”)&lt;br /&gt;Tentu  saja pengorbanan orang tua tidak hanya sampai di situ. Karenanya  seseorang yang tidak bersyukur kepada mereka artinya telah melakukan  kedurhakaan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari -di dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al Adabul Mufrad&lt;/em&gt;- : Ketika Abdullah bin Umar -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;-  melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana  saja ibunya menginginkan, orang tersebut bertanya kepadanya, “&lt;em&gt;Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?&lt;/em&gt;” Abdullah bin Umar -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;- menjawab, “&lt;em&gt;Belum. Setetes (-keringatnya-) pun engkau tidak dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu&lt;/em&gt;.” Dan Ibnu Abbas -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;- berkata tentang firman ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;أَ َنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْك&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;,”&lt;em&gt;Maka,  barangsiapa yang bersyukur kepada ALLAH akan tetapi dia tidak bersyukur  pada kedua orang tuanya, ALLAH tidak akan menerima rasa syukurnya&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka  hendaknya para orang tua pun mengambil pelajaran bagaimana mendidik  anak-anak mereka agar kelak menjadi anak yang bersyukur. (Baca  pembahasan serupa pada tulisan saya berjudul: “Lihatlah Bagaimana Orang  Tuanya Diperlakukan!”)&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi bentuk kedurhakaan  anak kepada orang tuanya, seperti :mendiamkan mereka, malu mengakui  mereka sebagai orang tua, tidak mendo’akan mereka, mendahulukan orang  lain di atas mereka, dan sebagainya. Padahal ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;&amp;nbsp;telah memerintahkan anak memperlakukan kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya : وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا (…&lt;em&gt;pergaulilah keduanya secara ma’ruf&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Maka hendaknya kita bertobat kepada ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;,  memohon ma’af kepada kedua orang tua, serta memperbaiki mu’amalah kita  kepada mereka, seandainya kita telah melakukan perbuatan durhaka kepada  mereka. Kemudian kita didik anak kita menjadi anak yang berbakti kepada  orang tuanya (kita) seraya menutup jalan-jalan yang dapat mengantarkan  mereka kepada kedurhakaan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-8729608924879941807?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/8729608924879941807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-lukman-kepada-anaknya-bagian-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/8729608924879941807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/8729608924879941807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-lukman-kepada-anaknya-bagian-dua.html' title='Wasiat Lukman Kepada Anaknya (Bagian Dua)'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-7878957858692418837</id><published>2011-06-20T03:15:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T03:15:09.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feature'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Wasiat Luqman Kepada Anaknya (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BEql-bVHEXY/TTA9bPqbz4I/AAAAAAAAACw/s1QC6U_uGxE/s1600/surat-wasiat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://2.bp.blogspot.com/_BEql-bVHEXY/TTA9bPqbz4I/AAAAAAAAACw/s1QC6U_uGxE/s320/surat-wasiat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Abu Khaulah Zainal Abidin&lt;br /&gt;Luqman adalah hamba ALLAH yang sholeh, yang ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;abadikan nama, wasiat, dan sebagian kisahnya di dalam AL Qur’an. ALLAH&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt; mengaruniainya Al Hikmah, sehingga jadilah ia hamba yang bersyukur kepada ALLAH. Dan ketika para Sahabat -&lt;em&gt;radhiallahu anhum&lt;/em&gt;- gelisah dan khawatir -dengan adanya peringatan ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;  terhadap  orang-orang yang mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman  (الَّذِينَ  آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْم&lt;strong&gt;ٍ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;/Al An’aam: 82)- Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- segera mengingatkan mereka kepada ucapan Luqman di dalam Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ألم تسمعوا ما قال العبد الصالح&lt;/strong&gt; :….&lt;br /&gt;(Artinya: “&lt;em&gt;Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan seorang hamba yang sholeh&lt;/em&gt;:…..)&lt;br /&gt;Maka, hendaknya kita pun mengambil pelajaran dari wasiat Luqman kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt; mengawali  wasiat Luqman ini  dengan menggambarkan keutamaan Luqman -berupa hikmah,  yakni ilmu dan  kefahaman-. Dan ALLAH mengawalinya pula dengan perintah  untuk bersyukur  kepada ALLAH serta manfa’atnya :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلَقَدْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; آَتَيْنَا  لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ  أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا  يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ  وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artinya: (&lt;em&gt;Dan  sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman  (-yaitu-); Bersyukur  kepada-Ku. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka  seseungguhnya ia  bersyukur untuk dirinya. Dan barangsiapa yang kufur  (tidak bersyukur),  maka sesungguhnya ALLAH itu Maha Kaya lagi Terpuji&lt;/em&gt;.) (Luqman: 12)&lt;br /&gt;Kemudian ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  (-ingatlah-) ketika Luqman berkata kepada anaknya,  di waktu ia  memberikan wejangan: “Wahai anakku, janganlah kau  sekutukan ALLAH.  Sesungguhnya perbuatan menyekutukan ALLAH (syirik) itu  kedzaliman yang  sangat besar.”&lt;/em&gt;) (Luqman: 13)&lt;br /&gt;Kata (&lt;strong&gt;وَهُوَ يَعِظُهُ &lt;/strong&gt;) di dalam ayat ini menggambarkan bagaimana Luqman dalam keadaan menyengaja memberikan wejangan kepada anaknya.&lt;br /&gt;Inilah  pelajaran pendahuluan -bagi para orang tua- dari kisah  Luqman, yakni  menyengaja memberikan wejangan kepada anak-anaknya,  terutama tentang  perkara-perkara yang penting mereka ketahui dan  amalkan. Seorang kepala  keluarga hendaknya menyiapkan waktu-waktu  khusus untuk memberikan  wejangan kepada anak-anak dan isterinya. Orang  tua -terutama ayah- harus  membiasakan dan melatih diri berbicara di  hadapan anak di dalam suasana  memberikan pelajaran atau nasihat.&lt;br /&gt;Mengadakan majelis keluarga  sangat besar manfaatnya, baik bagi orang  tua -yang memberi wejangan-  maupun bagi anak -yang mendengarkannya-.  Suasana bermajelis akan  menimbulkan komunikasi dua arah yang lebih dari  sekedar obrolan, dan  menumbuhkan keterbukaan di antara orang tua dan  anak.. Kesan formal yang  ditimbulkannya juga dapat membantu menjaga  “posisi” orang tua – anak,  atau bahkan memperbaikinya. Anak juga  -kemudian- akan melihat orang  tuanya sebagai pendidik atau pemberi  arahan dan nasihat, bukan sekedar  pencari nafkah bagi keluarga. Orang  tua juga -kemudian- akan melihat  anaknya sebagai murid atau anak didik,  bukan sekedar keturunan atau  anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wasiat Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Wahai  anakku, janganlah kau sekutukan ALLAH.  Sesungguhnya perbuatan  menyekutukan ALLAH (syirik) itu kedzaliman yang  sangat besar.”&lt;/em&gt;) (Luqman: 13)&lt;br /&gt;Inilah wasiat pertama Luqman kepada anak-anaknya, yakni berupa&lt;strong&gt;peringatan untuk menjauhi perbuatan mensyarikatkan (menyekutukan) ALLAH serta penjelasan akan bahayanya.&lt;/strong&gt;  Inilah  perkara terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orang  tua, yakni  perhatian terhadap aqiedah anak-anaknya. Perhatian untuk  menjaga fitrah  anak-anaknya agar tetap dalam keadaan mentauhidkan  ALLAH. Perhatian  untuk menyelamatkan anak-anaknya dari terjerumus ke  dalam kesyirikan.&lt;br /&gt;Sudah  seharusnya orang tua mempunyai kekhawatiran terhadap aqiedah  anak-anak  mereka kelak sepeninggalnya. Artinya, orang tua harus  membekali anak  dengan ilmu yang cukup agar anak-anaknya kelak tetap  mentauhidkan ALLAH.  Perhatikanlah apa yang diwasiatkan Nabi Ibrahim -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-. kepada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَوَصَّى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; بِهَا  إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ  وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى  لَكُمُ الدِّينَ فَلَا  تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan  Ibrahim-pun mewasiatkan anaknya tentang itu,  demikian pula Ya’qub,  “Wahai anak-anakku. Sesungguhnya ALLAH telah  memilih agama ini (-Islam-)  bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali  di dalam keadaan sebagai  muslim.”&lt;/em&gt;) (Al Baqarah: 132)&lt;br /&gt;Demikian pula kekhawatiran Nabi Ya’qub -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;- terhadap aqiedah anak-anaknya, sehingga dia memerlukan kepastian berupa janji anak-anaknya untuk tetap mentauhidkan ALLAH.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Adakah  kamu hadir ketika (-tanda-tanda-) maut  mendatangi Ya’qub, ketika ia  berkata kepada anakanaknya, “Apa yang akan  kalian sembah sepeninggalku?”  Mereka menjawab,”Kami akan menyembah  rabb-mu, rabb nenek moyangmu;  Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (-yaitu-)  Rabb Yang Maha Esa, dan kami  hanya tunduk kepada-Nya.”&lt;/em&gt;) (Al Baqarah:133)&lt;br /&gt;Cukuplah kedua contoh (Nabi Ibrahim dan Ya’qub -&lt;em&gt;alaihimassalaam&lt;/em&gt;-)   di atas menjadi pelajaran bagi kita -para orang tua-, bahwa hendaknya   kita lebih khawatir terhadap perkara agama atau aqiedah anak-anak kita   ketimbang ”&amp;nbsp;&lt;em&gt;Di mana nanti mereka tinggal ?&lt;/em&gt;” atau “&lt;em&gt;Siapa yang akan memberi mereka makan?&lt;/em&gt;” -sebagaimana sering dikhawatirkan kebanyakan orang tua akan nasib anak-anaknya sepeninggal mereka.&lt;br /&gt;Tauhid  (Mengesakan ALLAH) merupakan perkara terpenting yang ALLAH  perintahkan  atas hamba-Nya. Demikian pula, Syirik (Menyekutukan ALLAH)  merupakan  perkara terpenting yang ALLAH larang atas hamba-Nya. Oleh  karenanya  tidaklah ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt; mengutus rasul-Nya di setiap jaman, kecuali mereka mengajak manusia kepada Tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dan telah Kami utus pada setiap umat rasul (-untuk menyeru-), “Sembahlah ALLAH, dan jauhilah Thaghut!”&lt;/em&gt;) (An-Nahl:36)&lt;br /&gt;Maka  perkara Tauhid dan Syirik menjadi hal terpenting pula yang  harus  diajarkan kepada anak sedini mungkin. Keduanya (menanamkan Tauhid  dan  menjauhi perbuatan Syirik) dilakukan bersamaan, karena tidaklah  ALLAH  memerintahkan hamba-Nya mentauhidkan ALLAH kecuali bersamaan pula  dengan  itu melarangnya berbuat syirik.&lt;br /&gt;Menanamkan Tauhid kepada anak  -sejak dini- dan menjauhkan mereka  dari perbuatan syirik ditempuh dengan  menumbuhkan penghayatan melalui  pembiasaan -sholat dan berdo’a,  misalnya-, serta menjauhkan mereka dari  rasa takut yang tidak beralasan  (-&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;-). Di samping itu juga melalui pendekatan nalar manakala kemampuan menalarnya sudah memadai.&lt;br /&gt;Mengajari  anak lafadz-lafadz do’a dan dzikir serta membiasakan  mereka berdo’a  merupakan cara pertama menanamkan Tauhid kepada anak,  karena (-baca juga  tulisan saya yang berjudul “&lt;strong&gt;Berdo’alah Kalian…!&lt;/strong&gt;“-) :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan adanya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH itu ada&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui-nya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH itu Maha Mendengar&lt;/strong&gt; (-apa yang disampaikan oleh hamba-Nya-)&amp;nbsp;&lt;strong&gt;dan Maha Mengetahui&lt;/strong&gt; (-apa yang diperbuat oleh hamba-Nya dan segala permasalahan yang dihadapi mereka-).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda imannya seseorang akan Maha Kaya-nya ALLAH, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa ALLAH Maha Kaya&lt;/strong&gt;(-dan Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu-) serta mampu memenuhi seluruh kebutuhan hamba-Nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdo’a  merupakan tanda baik sangkanya seseorang terhadap ALLAH  -karena  mustahil seseorang berdo’a dan memohon kepada ALLAH kecuali  karena dia  berharap dan menyangka bahwa ALLAH pasti akan mengabulkan  do’a dan  memenuhi permintaannya-, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan perasaan senantiasa berbaik sangka kepada ALLAH&lt;/strong&gt;, sebagaimana hal itu wajib dimiliki oleh setiap muslim terhadap rabb-nya. Bukankah Rasulullah -&lt;em&gt;Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- telah mewasiatkan kita akan hal itu;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;عن جابر بن عبدالله الأنصاري، قال&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قبل موته بثلاثة أيام، يقول&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Dari Jabir bin Abdillah Al Anshary, berkata:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Aku  mendengar  Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata -tiga hari  sebelum  wafatnya- ,”Janganlah di antara kalian mati, kecuali di dalam  keadaan  berbaik sangka kepada ALLAH Azza wa Jalla&lt;/em&gt;.”) (HR:Muslim)&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berdo’a merupakan tanda rasa butuhnya seorang hamba akan&amp;nbsp;&lt;em&gt;rabb&lt;/em&gt;-nya   -karena mustahil seseorang meminta kepada yang lain jika ia merasa   mampu memenuhinya sendiri- serta pengakuan bahwasanya ALLAH lah   satu-satunya tempat meminta pertolongan -sebuah pengakuan yang juga   diucapkan setiap muslim di dalam sholatnya-, maka&amp;nbsp;&lt;strong&gt;mengajari anak   berdo’a itu artinya juga menanamkan perasaan butuh akan ALLAH dan   pengakuan bahwasanya ALLAH sajalah satu-satunya yang layak diibadahi dan   dimintai pertolongan&lt;/strong&gt;. Dan ini (berdo’a) merupakan inti ibadah   serta wujud mengesakan (mentauhidkan) ALLAH yang paling nyata. Ini   pulalah di antara hikmah kalimat-kalimat Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;-Shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- kepada Ibnu Abbas -&lt;em&gt;radhiallahu anhu&lt;/em&gt;- :&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;strong&gt;إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله،&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(“…&lt;em&gt;Jika kau berdo’a, berdo’alah kepada ALLAH. Dan jika memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada ALLAH&lt;/em&gt;…”) (HR: At-Ttirmidzi)&lt;br /&gt;Kemudian, menjauhkan anak dari perasaan takut yang tidak beralasan (-&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;-) juga merupakan cara pertama untuk menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada kesyirikan.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Khauf Sirry&lt;/em&gt;  (takut  tersembunyi) adalah sejenis takut yang tidak beralasan dan  bukan  merupakan tabi’at asal manusia. (-baca juga tulisan saya yang  berjudul “&lt;strong&gt;Kenapa Harus Takut?&lt;/strong&gt;“-). Yang termasuk&amp;nbsp;&lt;em&gt;Khauf Sirry&lt;/em&gt;  ini  adalah seperti; takutnya seseorang kepada cerita-cerita hantu dan   sejenisnya, yang ini -sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Muhammad   bin Sholih Al Utsaimin -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa- &lt;/em&gt;di dalam Syarah   Tsalatsatul Ushul- merupakan jenis kesyirikan. Karena tidaklah seorang   takut kepada yang tidak beralasan untuk ditakuti itu kecuali karena ada   keyakinan bahwa sesuatu tersebut memiliki kemampuan tertentu -seperti   mendatangkan manfaat atau mudharat-.&lt;br /&gt;Syirik tumbuh tidak lain karena ada keyakinan bahwa ada sesuatu (benda mati atau makhluq hidup) selain ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subahaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;  yang  memiliki sifat-sifat ilaahiyah (berhak diibadahi: disembah,  dimintai  pertolongannya, dicintai, ditakuti, dijadikan tempat  bergantung). Dan  kecenderungan yang pertama kali tumbuh pada manusia  -terutama anak-anak-  adalah rasa takut. Maka hendaknya anak-anak  dijauhkan dari  cerita-cerita atau khayalan-khayalan yang membuat  tumbuhnya&amp;nbsp;&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt; pada jiwa mereka. Karena&lt;strong&gt; bibit-bibit kesyirikan pertama kali tumbuh di dalam jiwa anak melalui takut yang tidak beralasan &lt;/strong&gt;ini&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedua (mengajari anak berdo’a dan menjauhkan mereka dari cerita atau khayalan yang bisa menumbuhkan&amp;nbsp;&lt;em&gt;khauf sirry&lt;/em&gt;)   hal inilah yang merupakan pendekatan pembiasaan dan penghayatan yang   bisa kita tempuh di dalam rangka menanamkan Tauhid dan menjauhi Syirik   pada jiwa anak-anak kita. Di dalam rangka pembiasaan -agar dengannya   tumbuh keyakinan- ini pulalah mengapa anak -meskipun belum mencapai usia   mampu membedakan baik dan buruk- sudah harus diajari sholat.&lt;br /&gt;Di  samping itu -bagi mereka yang sudah bisa diajak berpikir serta  mampu  membedakan yang baik dan yang buruk- hendaknya kita pergunakan  pula  cara-cara dengan pendekatan nalar. Melalui pendekatan nalar lah   keyakinan yang sudah tumbuh melalui pendekatan pembiasaan tadi   mendapatkan alasan logisnya.&lt;br /&gt;ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt; berfirman:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;يَأيُّهَا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; النَّاسُ  اعبُدُوا ربَّكُمُ  الذَِّي خَلَقَكُم وَالذِّينَ مِن قَبلكُم لَعَلَّكُم  تَتَّقُونَ(21)  الّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرضَ فِرَاشًا وَالسَّمآءَ بِنآءً  وَأنزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ مَاَءً فَأخرَجَ بِهِ مِن الثَّمراتِ رِزقًا  لّكُم فَلاَ  تَجعَلُواْ لَلَّهِ أندَادًا وَأنتُم تَعَلُمونَ [البقرة:22،21&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;].&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Artinya:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Wahai  manusia. Ibadahilah rabb-kalian Yang telah  menciptakan kalian dan  orang-orang sebelum kalian, agar kalian  bertakwa. Dia-lah Yang  menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan  langit sebagi atap serta  menurunkan hujan, lalu Dia keluarkan darinya  segala macam buah-buahan  sebagai rezki bagi kalian. Karena itu  janganlah kalian mengada-adakan  sekutu bagi ALLAH, padahal kamu  mengetahui&lt;/em&gt;.) (Al Baqarah 21-22)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;قال ابن كثير رحمه الله تعالى: ( الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; ).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Ibnu Katsir -&lt;em&gt;rahimahullahu ta’alaa&lt;/em&gt;- berkata (-di dalam tafsirnya): “&lt;em&gt;Yang Menciptakan segala itu semua tak lain adalah yang paling berhaq diibadahi&lt;/em&gt;.”)&lt;br /&gt;Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -&lt;em&gt;rahimahullah ta’alaa&lt;/em&gt;- (-di dalam Syarah Tsalaatsatul Ushul-) :&lt;br /&gt;“(-maksudnya-)&amp;nbsp;&lt;em&gt;jangan  buat tandingan terhadap yang telah  menciptakan kalian, orang-orang  sebelum kalian, bahkan telah menjadikan  bumi sebagai hamparan kalian,  menjadikan langit sebagai atap, dan  menurunkan hujan yang darinya Ia  keluarkan berbagai macam buah-buahan,  yang kemudian kalian beribadah  kepada tandingan tadi sebagaimana  seakan-akan kalian beribadah kepada  ALLAH, yang kemudian kalian cintai  sebagaimana seakan-akan kalian cintai  ALLAH. Sesungguhnya perbuatan  semacam itu tidaklah pantas bagi kalian  -baik secara aqal maupun secara  syar’i.&lt;/em&gt;“&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan satu contoh betapa ALLAH&amp;nbsp;&lt;em&gt;Subhaanahu wa ta’alaa&lt;/em&gt;menuntut   nalar kita untuk mengakui kekuasaan-Nya dengan cara mengesakan-Nya di   dalam peribadatan, yakni tidak menyekutukan atau menyetarakan ALLAH   dengan sesuatu apapun, baik di dalam do’a dan pengharapan maupun di   dalam cinta dan keta’atan.&lt;br /&gt;Ketika Luqman -&lt;em&gt;alaihissalaam&lt;/em&gt;-  berwasiat kepada anaknya agar  tidak menyekutukan ALLAH, ia menjelaskan  bahwa perbuatan tersebut  (syirik) merupakan kedzaliman yang sangat  besar. Dan memang tak ada  kata atau istilah yang lebih tepat untuk  mengungkapkan atau  menggambarkan tentang bahaya dan buruknya syirik,  kecuali kata&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;dzulmun ‘adziimun&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (kedzaliman  yang sangat besar) Ini juga bentuk pendekatan nalar.  Karena mustahil  menjelaskan (baca: menyifati) sesuatu dengan sesuatu  yang tidak  dimengerti. Maka tentu anaknya pun sudah memahami arti atau  makna&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Karenanya,  ketika sudah saatnya kita menjelaskan kepada anak  -melalui pendekatan  nalar- keutamaan Tauhid serta buruk dan bahayanya  Syirik, mereka juga  harus sudah mengenal dan terbiasa mendengar kosa  kata yang memuat  pengertian atau konsep-konsep penting; seperti kata&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt; -dan tentu saja menurut Islam-, karena mustahil menjelaskan&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt; tanpa lebih dahulu memahami konsep&lt;em&gt; adil&lt;/em&gt;, dan mustahil menjelaskan buruk dan bahayanya syirik tanpa lebih dahulu memahami konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Kita dapat memperkenalkan kosep&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil &lt;/em&gt;kepada anak melalui cara yang sederhana, seperti: “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu ibarat engkau menimbang sesuatu tidak berat atau panjang sebelah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Maka,   manakala engkau menimbang sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya   pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu tetap dalam keadaan   rata, itu artinya kau telah menimbang dengan adil, dan tentunya engkau   suka melihat keadilan semacam ini&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah sesuai dengan besar kesalahannya.&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Maka,   manakala kau menghukum atau membalas kesalahan orang yang bersalah   secara tidak berlebihan, atau membedakan antara hukuman bagi anak kecil   yang bersalah dengan hukuman bagi orang dewasa, itu artinya kau telah   berbuat adil; dan tentunya kau juga senang jika diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adil itu manakala engkau menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Maka,   manakala engkau menempatkan kambing di kandang kambing dan harimau di   kandang harimau -tidak sebaliknya atau tidak mengumpulkan mereka dalam   satu kandang-, itu artinya kau telah berbuat adil. Atau manakala  seorang  bapak menunaikan kewajibannya sebagai bapak dan anak menunaikan   kewajibannya pula sebagai anak, itu artinya mereka telah berbuat adil.   dan tentunya kau juga senang melihat yang demikian&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Pengertian dan penghayatan anak -juga manusia pada umumnya- terhadap konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt; sangat bergantung kepada pengertian dan penghayatan mereka terhadap konsep&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil &lt;/em&gt;di atas&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;  Maka  perhatikanlah, sungguh sangat tidak aneh kalau orang-orang kafir  -yang  menganggap adil itu adalah sekedar sama rata sama rasa- kemudian   melahirkan ideologi komunisme. Juga sungguh sangat tidak aneh kalau ada   muslim -yang tidak memahami konsep&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt; menurut Islam ini- termakan oleh propaganda Liberalisme, Emansipasi wanita, dan semacamnya.&lt;br /&gt;Setelah anak memahami&amp;nbsp;&lt;em&gt;adil&lt;/em&gt; , tentu akan lebih mudah bagi kita menjelaskan makna&amp;nbsp;&lt;em&gt;dzalim&lt;/em&gt; yang merupakan lawannya:&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu ibarat kau menimbang sesuatu dengan berat sebelah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;em&gt;Maka,   manakala engkau mengukur sesuatu dengan meletakkan alat pengukurnya   tidak pada tempat yang tepat sehingga alat timbangan itu menjadi miring   ke salah satu arah, itu artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya   kau tidak suka melihat keadaan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu manakala engkau menghukum seseorang yang berbuat salah dengan hukuman yang tidak sesuai dengan besar kesalahannya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maka,   manakala engkau menghukum atau membalas kesalahan seseorang secara   berlebihan sehingga melebihi besar atau tingkat kesalahannya, itu   artinya kau telah berbuat dzalim, dan tentunya kau tidak suka   diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.” “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzalim itu manakala engkau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Maka,   manakala engkau memperlakukan anak seperti orang tua atau sebaliknya,   itu artinya kau telah berbuat dzalim. Manakala engkau menghormati orang   yang senang berbuat maksiat dan menghina orang yang selalu mengerjakan   keta’atan, itu artinya kau telah berbuat dzalim. dan tentunya kau  tidak  senang diperlakukan seperti itu&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;Maka, bagaimana jika ada  yang menyamakan atau menyejajarkan sesuatu  yang tidak pantas  dipersamakan atau disejajarkan? Bagaimana jika ada  yang menyamakan atau  mendudukkan makhluq pada kedudukan Al Khaliq  (Pendipta)? Bagaimana kalau  ada orang menyembah sesuatu yang tidak  pantas bahkan tidak berhak untuk  disembah? Jawabnya,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;” &lt;/strong&gt;Itu semua adalah perbuatan dzalim, bahkan yang paling dzalim.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Dan tak ada kedzaliman yang lebih besar mengalahi dzalimnya perbuatan (syirik) tersebut. “إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-7878957858692418837?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/7878957858692418837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-luqman-kepada-anaknya-bagian-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/7878957858692418837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/7878957858692418837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/wasiat-luqman-kepada-anaknya-bagian-1.html' title='Wasiat Luqman Kepada Anaknya (Bagian 1)'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BEql-bVHEXY/TTA9bPqbz4I/AAAAAAAAACw/s1QC6U_uGxE/s72-c/surat-wasiat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-6322964403964996126</id><published>2011-06-20T02:55:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T02:55:15.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feature'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengajar Prima Dengan Quantum Teaching</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;                 &lt;div style="float: left; margin-right: 10px;"&gt;           &lt;/div&gt;&lt;a href="http://smpitjuwana.com/wp-content/uploads/2011/04/quantumteaching.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Quantum Teaching" class="alignleft size-medium wp-image-70" height="204" src="http://smpitjuwana.com/wp-content/uploads/2011/04/quantumteaching-300x204.jpg" title="quantumteaching" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh M. Abbas Fauzan Jumat,&lt;br /&gt;Dengan Quantum Teaching segalanya menjadi Luar Biasa&lt;br /&gt;Pagi itu seorang guru dengan penuh keyakinan dan “kewibawaan” nya  memasuki ruang kelas di sebuah sekolah. Begitu selesai ritual protokoler  hariannya / , beliau mengatakan “ Anak-anak ! buka halaman 20 Buku  Panduan Belajar Ilmu Pasti V A. Baca point A sampai Point D, dan  selanjutnya kerjakan soal-soal Latihan pada akhir bab. Bagi kalian yang  telah selesai&lt;br /&gt;mengerjakan boleh meninggalkan kelas untuk beristirahat. Dan bagi kalian  yang selesai paling akhir, bertugas mengumpulkan tugas-tugas teman  sekelasmu tersebut ke meja Saya. Awas jangan membuat gaduh, kalau tidak  ingin mendapat hukuman ! Saya tunggu di kantor, Saya ada keperluan !  Selamat mengerjakan, Dan sekali lagi .. jangan membuat keributan dan  kegaduhan ! “ mendengar pengumuman gurunya tersebut sontak anak-anak  berteriak “ Asyik….Asyik… kita bebas hari ini !!. Dan beberapa siswa  yang lain mengatakan “ Asyik… ini baru sekolah yang menyenangkan !”&lt;br /&gt;Saudaraku sekalian, mungkin peristiwa itu tidak pernah saudara  lakukan ketika di dalam kelas. Namun demikianlah yang pernah dan masih  sering Saya jumpai di sekolah-sekolah sekitar lingkungan Saya, atau  paling tidak berdasarkan omong-omong saya dengan beberapa anak yang suka  “ jalan-jalan “ ketika jam sekolah masih “ AKTIF “ dan masih duduk di  sekolah menengah baik SMP maupun SMA.&lt;br /&gt;Suatu saat Saya bertanya “ Mengapa kamu tidak suka mengikuti pelajaran  di sekolah ?” Rata-rata jawaban mereka&amp;nbsp; Saya simpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pelajarannya sulit-sulit&lt;br /&gt;b. Pelajarannya membosankan&lt;br /&gt;c. Gurunya membosankan&lt;br /&gt;d. Gurunya galak&lt;br /&gt;Kemudian jika Saya analisis lebih jauh lagi, tentunya berdasarkan  pengalaman Saya selama menjadi Guru, dari keempat jawaban mereka,  sesungguhnya terfokus pada satu masalah saja, yaitu Presentasi yang  Tidak Prima. Nah dari masalah inilah segala macam persoalan dalam  pembelajaran akan muncul mengeroyok guru. Mengapa demikian ?, Saudaraku  disini Saya akan menunjukkan buktinya, yaitu :&lt;br /&gt;a. Pelajarannya sulit-sulit, Sebenarnya hal ini tidak akan pernah  terjadi terhadap pembelajaran dan siswa kita jika saja “ KITA MAMPU  TAMPIL PRIMA “dalam memberikan penjelasan rasional ( yang runtut dari  tahapan mudah ke tahapan yang lebih rumit ) tentang pokok pelajaran  kepada siswa.&lt;br /&gt;b. Pelajarannya membosankan, Hal ini juga seharusnya tidak boleh terjasi  seandainya “ KITA MAMPU TAMPIL PRIMA “ dalam menyajikan pembelajaran  secara dinamis.&lt;br /&gt;c. Gurunya membosankan, wah ini apalagi !! harus tidak boleh terjadi.  Tentu saja jika “ KITA MAMPU TAMPIL PRIMA “ dalam mempersiapkan seluruh  perangkat atau administrasi pembelajaran kita sebelum mengajar.&lt;br /&gt;d. Gurunya galak. Guru galak biasanya mempunyai urut-urutan cerita sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Banyak murid yang tidak mampu menampilkan indicator keberhasilan pembelajaran, sehingga&lt;br /&gt;2. Murid tidak semangat belajar atau merasa tidak bisa, akhirnya mereka  mencari pelampiasan ( missal : menggangu teman, tidak konsentrasi  belajar dalam kelas dan masih banyak lagi )&lt;br /&gt;3. Guru marah karena merasa tidak diperhatikan atau banyak siswa yang ramai ), kemudian&lt;br /&gt;4. Muncul anggapan Guru A itu GALAK, SUKA MARAH _ MARAH!.&lt;br /&gt;5. Padahal saudaraku urutan cerita tersebut berhenti pada satu masalah,  yaitu “ GURU TIDAK MAMPU TAMPIL PRIMA “ di depan siswa sehingga  pelajaran yang disampaikan tidak dapat terserap dengan baik !&lt;br /&gt;Oleh karena itu saudaraku…… semua itu harus berakhir dan seharusnya  fakta ini dapat membangkitkan “ selera “ baru kita untuk berani lari dan  keluar dari kungkungan system ( model belajar yang kuno ) yang ada di  lingkungan sekolah kita. Lha yang menjadi pertanyaan adalah “ Jika benar  mau berubah dan lari terus kita mau lari kemana ?.” …&lt;br /&gt;Nah.. pertanyaan inilah yang saya tunggu-tunggu sejak lama dan Saya  merindukan pertanyaan itu muncul dan diucapkan oleh para guru kita.  Mengapa demikian ? ya… jawabanya jelas, bahwa yang demikian tersebut  mencerminkan Guru itu mau berubah dan berkeinginan untuk memperbaiki  metode pengajarannya. Ya.. PENGAJARAN YANG MONOTON, KUNO DAN SANGAT  MEMBOSANKAN menjadi pembelajaran yang DINAMIS, MENYENANGKAN DAN  MENGESANKAN SERTA EFEK KEPUASAN BAGI seluruh WARGA BELAJARNYA.&lt;br /&gt;Saya yakin dengan proses pembelajaran yang baik serta pengawalan yang  ketat maka keberhasilan pembelajaran akan segera kita dapatkan. Disini  Saya akan berbagi dengan Saudara tentang “ Pembelajaran Prima dengan  method Quantum Teaching “&lt;br /&gt;Dengan Quantum Teaching akan :&lt;br /&gt;1. Mendekatkan dunia pemikiran anak-anak kepada dunia pemikiran kita  sehingga seolah – oleh kita jadi mereka dan mereka mampu bermain bersama  kita&lt;br /&gt;2. Membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa karena sesuatu tersebut  dapat memberikan manfaat besar buat proses belajar kita ( Saya katakan “  Semuanya “ baik benda mati maupun hidup akan menjadi pembantu proses  pembelajaran yang kita laksanakan )&lt;br /&gt;3. Menjadikan pengalaman belajar menjadi sangat berkesan bagi seluruh warga belajar kita&lt;br /&gt;4. Menjadikan Kelas yang kuno dan membosankan menjadi kelas yang dinamis dan sangat mengesankan&lt;br /&gt;5. Menjadikan Kelas meningkatkan selera, tingkat partisipasi dan gairah siswa dalam belajar&lt;br /&gt;6. Menjadikan suasana kelas BERBEDA dari yang biasanya&lt;br /&gt;7. Membantu penampilan prima kita dihadapan siswa&lt;br /&gt;8. Menjadikan seluruh siswa merasa “ bisa “ dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran&lt;br /&gt;9. Mengubah ruang kelas menjadi komunitas belajar yang sangat dinamis&lt;br /&gt;10. Menciptakan kelas sebagai suatu tempat yang sangat nyaman bagi warga belajar.&lt;br /&gt;11. Mewujudkan suatu Ketakjuban dalam pembelajaran&lt;br /&gt;12. Melejitkan prestasi siswa&lt;br /&gt;13. Menjadikan sesuatu yang biasa menjadi LUAR BIASA&lt;br /&gt;14. Sukses pembelajaran&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-6322964403964996126?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/6322964403964996126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/mengajar-prima-dengan-quantum-teaching.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/6322964403964996126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/6322964403964996126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/mengajar-prima-dengan-quantum-teaching.html' title='Mengajar Prima Dengan Quantum Teaching'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1899660516920359281.post-6431205025836997588</id><published>2011-06-20T02:53:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T02:53:13.191-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jangan Salah Tafsir</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span id="goog_979119645"&gt;&lt;span id="goog_979119649"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img alt="" class="alignleft" height="133" src="http://karyaorbitaku.files.wordpress.com/2008/08/quran.jpg" title="Quran" width="200" /&gt;&lt;span id="goog_979119650"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_979119646"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;Allah  swt telah memberikan arahan dan bimbingan kepada kita dengan sangat  jelas dan tegas. dalam salah satu ayat Al Qur’an Allah swt memberikan  kabar sekaligus garansi kepada kita dengan sebuah pernyataan ”  ……Fashbir, inna wa’dallahi haqq “&amp;nbsp; yang dalam tafsir Al Qur’an terbitan  DEPAG berarti ” …. maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu adalah  benar ”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Abbas Fauzan&lt;br /&gt;Saudaraku sekalian, marilah kita tadabburi ayat itu dalam konteks  kehidupan kita sehari-hari. kita telah dijanjikan oleh Allah suatu yang  sangat besar dibalik kesulitan kita, sepanjang kita betul-betul sabar  menghadapinya.&lt;br /&gt;ada beberapa unsur yang hendaknya kita dalami, yaitu :&lt;br /&gt;1. Allah swt. hanya benar-benar akan mengubah kondisi kita sepanjang kita berupaya untuk senantiasa berusaha mengubahnya.&lt;br /&gt;2. Allah hanya akan memberikan semua itu kepada orang yang tidak patah semangat dan tidak pernah putus asa dari rahmat Allah swt&lt;br /&gt;3. Batas dari semangat dan kekuatan serta kemampuan kita adalah ketika  kita jatuh, lalu bangun lagi, jatuh lagi, kemudian bangun lagi dengan  sepenuh tenaga, kemudian jatuh dan tidak mampu bangun lagi.itu;ah batas  kemampuan kita.&lt;br /&gt;4. Bertindak atau beramal jauh bermakna daripada sekedar merancang  konsep, mempresentasikan dan mengevaluasi saja,( mengangan-angan saja ).  marilah kita mulai perubahan hidup kita menuju yang lebih baik sejak  sekarang.&lt;br /&gt;5. Menerima kekurangan orang lain dan mengevaluasi diri sendiri jauh  lebih bermanfaat dari pada hanya membetulkan ( mengoreksi ) kelemahan  orang lain.&lt;br /&gt;Beberapa hal diatas adalah masalah yang sering kita lupakan sehingga  kita kadang salah tafsir dengan janji Allah swt. Wallahu a’lamu  bishshowab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1899660516920359281-6431205025836997588?l=www.shidiq.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.shidiq.com/feeds/6431205025836997588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/jangan-salah-tafsir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/6431205025836997588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1899660516920359281/posts/default/6431205025836997588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.shidiq.com/2011/06/jangan-salah-tafsir.html' title='Jangan Salah Tafsir'/><author><name>Dede</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
